Pendidikan Basic
Hari ke hari, bulan berganti tahun, dunia pendidikan selalu memunculkan metode dan mekanisme pembelajaran yang baru. Di pondok pesantren yang dulunya mengajarkan sistem tradisional kini sudah mulai bergeser meninjau dan memberlakukan sistem modern. Bahkan di suatu negara kurikulm dapat berubah dengan bergantinya mentri pendidikan atau bergantinya rezim.
Pemberlakuan sistem pembelajaran dan kurikulum juga tidak jarang menimbulkan perdebatan di kalangan tenaga pengajar. Di sekolah swasta khususnya sering terjadi adu argument tentang kurikulum yang akan dipakai. Ada kejadian unik saat diskusi di sebuah lembaga pesantren. Para tenaga pendidik saling memberikan pendapat tentang buku yang akan dijadikan referensi peserta didik. Ada yang memaksakan untuk memakai kitab yang dulu dia pernah pakai di pesantrennya. Bahkan ada yang sampai mengkritisi buku lain yang menurutnya tidak sesuai dengan obsesi dan tujuan pesantren.
Terlepas dari demikian, ada yang perlu dipahami bahwa pesantren atau lembaga pendidikan mana pun adalah basic. Ia baru sekedar pondasi yang belum menentukan kekuatan prinsip dan kepastian tujuan. Karena ia baru sekedar basic yang kelak setelah peserta didik melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, di saat pola pikirnya sudah matang, di saat itu pula dia menentukan arah tujuan dan jalan apa yang akan dia tempuh yang paling cocok dan nyaman untuk dirinya.
Sebagai lembaga basic, pesantren tentu menginginkan kepada para santrinya agar tidak melenceng dari nilai-nilai yang sudah ditanamkan. Sebab pesantren tidak pernah memaksakan santri untuk menjadi kyai semua atau guru semua. Sehingga kelak jadi apapun mereka, profesi apapun yang dilakoni tetap dalam rel basic yang mereka dapatkan.
Para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga tidak semuanya yang menjadi ulama’ hadits atau pakar tafsir, padahal rasulullah sendiri yang mendidik mereka. Tapi mereka sangat paham dengan semua ajaran yang Rasulullah berikan, sehingga apapun pekerjaan yang mereka lakukan mereka paham dengan aturan agama. Saat mereka menjadi pedagang, petani, pengembala dan lain sebagainya tidak pernah melalaikan mereka dari ajaran yang mereka dapatkan.
Itulah sebabnya perkara yang paling utama dalam pembelajaran adalah Al-Fahmu yaitu Pemahaman.
Wallahu a’lam bis-shawab.
#Tantangan365Gurusiana #TantanganHariKe-37
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
