Pramuka Tempat Kami Belajar Berani
Setiap hari Kamis, suasana pesantren selalu terasa berbeda. Sejak pagi, halaman mulai ramai oleh santri yang memakai seragam pramuka lengkap. Warna coklat khas itu seolah punya cerita sendiri. Ada yang sibuk merapikan hasduk, ada yang saling membantu memasang atribut, ada pula yang sudah berbaris sambil bercanda kecil menunggu peluit dibunyikan.
Padahal, tidak sedikit di antara kami yang sedang berpuasa sunnah. Namun anehnya, rasa lelah seperti kalah oleh semangat kebersamaan. Matahari boleh terik, tenggorokan boleh kering, tapi latihan pramuka tetap dijalani dengan antusias. Kadang kalau dipikir sekarang, mungkin bukan karena kami kuat secara fisik, melainkan karena hati kami waktu itu memang sedang penuh semangat belajar hidup.
Dulu, santri-santri punya daya juang yang luar biasa. Hal sederhana saja bisa menjadi kebanggaan besar. Apalagi kalau sudah berbicara tentang kepramukaan. Bahkan ada “pasukan khusus” dalam tim pramuka pesantren. Mereka yang dipilih biasanya terkenal disiplin, tahan lelah, dan paling siap kalau ada perlombaan atau kegiatan besar. Rasanya bangga sekali melihat senior-senior memakai atribut lengkap dengan langkah tegap dan wajah penuh percaya diri.
Salah satu yang paling berkesan tentu perjuangan mendapatkan lencana bantara. Itu bukan sekadar lencana biasa. Di balik benda kecil yang menempel di seragam itu, ada latihan, keringat, rasa takut, bahkan mental yang ditempa.
Kami harus ikut kemah, latihan kedisiplinan, sampai jurit malam yang membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Suasana malam di pesantren memang berbeda. Gelap, sunyi, dan kadang penuh cerita-cerita yang membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi saat ada tantangan mengambil sesuatu di dekat batu nisan. Banyak yang awalnya terlihat berani saat siang hari, mendadak pucat ketika malam tiba.
Bahkan ada juga kawan yang tiba-tiba “sakit mendadak” supaya tidak ikut jurit malam. Ada yang pura-pura pusing, ada yang memegangi perut sambil meringis, padahal sebelumnya masih semangat bercanda. Sampai sekarang kalau diingat, rasanya lucu sekali. Ketakutan masa muda memang selalu punya cerita yang menghangatkan kenangan.
Namun justru dari kegiatan seperti itulah kami belajar banyak hal. Belajar berani melawan rasa takut. Belajar bertanggung jawab terhadap kelompok. Belajar disiplin meski tidak diawasi. Dan yang paling penting, belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kenyamanan.
Waktu terus berjalan. Setelah tamat dari pesantren, saya mulai jarang memakai baju pramuka. Seragam yang dulu hampir dipakai setiap pekan perlahan hanya tersimpan di lemari kenangan. Bahkan ketika mengajar di beberapa sekolah, saya lebih sering memakai kaos berwarna coklat saat kegiatan pramuka daripada seragam lengkap.
Lucunya, kadang tetap diminta menjadi pembina pramuka juga. Dengan atribut yang tidak lengkap, dengan penampilan seadanya, saya hanya bisa tersenyum sendiri melihat kenyataan itu. Dulu semangat sekali mengejar lencana dan atribut, sekarang malah jadi pembina dengan perlengkapan yang sederhana.
Tapi mungkin memang begitu kehidupan. Yang berubah bukan hanya pakaian, melainkan usia dan peran. Dulu kami berdiri sebagai santri yang belajar dipimpin. Sekarang perlahan belajar menjadi orang yang membimbing.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah: kenangan tentang pramuka di pesantren selalu punya tempat istimewa di hati. Sebab di sana bukan hanya belajar tali-temali atau baris-berbaris. Kami belajar arti perjuangan, kebersamaan, keberanian, dan kesederhanaan hidup.
Dan semakin dewasa, saya semakin sadar… ternyata kenangan paling indah bukan tentang betapa mewahnya masa lalu, tetapi tentang betapa tulusnya kebersamaan yang pernah kita miliki dulu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
