Begini Akibat Gemar Mencari Validasi
Validasi dari orang lain sejatinya merupakan sesuatu yang menyenangkan. Apresiasi, penghargaan, dan dukungan sosial dapat menjadi penyemangat untuk terus berkembang. Namun, masalah muncul ketika validasi berubah dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan utama. Seseorang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan pujian yang diterimanya. Ia merasa berharga jika dipuji, merasa berhasil jika mendapat pengakuan, dan merasa gagal ketika tidak memperoleh perhatian sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi semacam ini ibarat berlari di atas treadmill yang tidak pernah berhenti. Seberapa jauh pun seseorang berusaha, ia akan selalu merasa kurang. Ketika berhasil mencapai satu target, muncul keinginan untuk mendapatkan pengakuan yang lebih besar. Ketika memperoleh pujian dari satu kelompok, ia akan berusaha meraih pujian dari kelompok lainnya. Tidak ada titik akhir yang benar-benar memuaskan, karena standar kebahagiaannya berada di tangan orang lain yang selera, penilaian, dan ekspektasinya terus berubah.
Akibatnya, energi mental terkuras sedikit demi sedikit. Seseorang menjadi mudah cemas, terlalu sensitif terhadap kritik, takut mengecewakan orang lain, dan kehilangan kemampuan menikmati proses kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi bertanya, "Apakah ini baik untukku?" tetapi lebih sering bertanya, "Apakah orang lain akan menyukainya?" Pada tahap tertentu, kelelahan emosional ini dapat berkembang menjadi rasa hampa, kehilangan motivasi, bahkan keinginan untuk berhenti berusaha sama sekali.
Ironisnya, orang yang terbiasa mencari validasi sering kali lupa bahwa manusia tidak mungkin mendapatkan penerimaan dari semua pihak. Bahkan orang-orang terbaik sekalipun tetap memiliki pengkritik. Sebesar apa pun usaha seseorang untuk menyenangkan semua orang, akan selalu ada pihak yang tidak puas. Menjadikan penilaian manusia sebagai sumber utama kebahagiaan sama saja dengan menggantungkan ketenangan hati pada sesuatu yang rapuh dan sulit dikendalikan.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk membangun validasi internal. Artinya, seseorang belajar menghargai dirinya berdasarkan nilai, prinsip, dan tujuan hidup yang diyakininya. Ia tetap terbuka terhadap masukan dan apresiasi, tetapi tidak menjadikannya sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh karena meyakini pekerjaannya bernilai, bukan semata-mata agar dipuji. Ia berbuat baik karena itu adalah prinsip hidupnya, bukan demi mendapatkan pengakuan.
Pada akhirnya, ketenangan bukanlah ketika semua orang menyukai kita, melainkan ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri. Sebab hidup yang terus-menerus menunggu tepuk tangan akan terasa melelahkan. Sementara hidup yang dijalani dengan kesadaran akan nilai diri sendiri akan menghadirkan keteguhan, ketulusan, dan daya tahan untuk terus melangkah, sekalipun tanpa sorak-sorai dari siapa pun.
Kita tidak bisa memenuhi semua kemauan orang. Kita tidak akan pernah bisa mengabulkan aspirasi semua manusia. Imam Syafi’i rahimahullah berkata,
رضا الناس غاية لا تدرك فعليك بما يصلحك فالزمه فانه لا سبيل الى رضاهم
“Ridha manusia itu sulit digapai. Cukup lakukan yang maslahat bagimu. Konsestenlah melakukannya, tak perlu toleh apa yang mereka katakan.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
