Ternyata...
Dela punya prinsip yang tidak tergoyahkan, yaitu anti berutang. Tidak peduli teman sekitarnya sibuk minjam sana-sini, meributkan promo bunga utang turun sekian persen, Dela tetap menggelengkan kepalanya. Syukurlah suaminya juga berpendapat sama, sehingga Dela tidak berjuang sendiri.
Untuk rumah mereka membeli tanah, kemudian mengangsur-angsur pembangunan rumah mereka. Sejak membeli tanah sampai pindah ke rumah mereka sendiri itu butuh waktu tujuh tahun. Akhirnya mereka menerima juga uluran bantuan dari ayah mertuanya, untuk memasang keramik rumah,karena mertuanya kasihan melihat rumah mereka yang cuma di plester kasar. Itulah penyebab mereka berutang, tapi pada mertua, karena tidak mau diberi uang cuma-cuma.
Sore itu Dela kedatangan Meli teman sekantor. Meli yang nyetir sendiri saat bekerja. Meli yang harga sepatu atau tasnya bisa setengah bulan gaji Dela. Meli disambut dengan hangat, Dela menyediakan teh dan bolu pisang yang baru saja ke luar dari oven. Dela mengira Meli akan mengajaknya menjadi panitia untuk kegiatan family gathering tiga pekan lagi. Tapi sampai setengah jam pembicaraan tidak ada juga pembahasan tentang itu. Setelah pembicaraan ke sana kemari, akhirnya Meli berkata, “Ada uang dua juta Del, saya perlu sekali, gajian bulan depan saya bayar.” Dela terdiam, hanya bisa terpana, menatap mobil Meli yang parkir di depan terasnya, pada tas mahal yang berada di pangkuan Meli.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
