Minimal Tiga Ratus Ribu Sehari
Hari pertama di Bandung kami gunakan untuk jalan pagi di sekitar hotel setelah salat subuh. Kami menginap di jalan Setia Budhi, di hotel Amaris. Matahari di Bandung lebih cepat muncul d banding di Sumatera Barat. Saat ini di Kinali waktu subuh masuk pukul 05.12, sedangkan di Bandung pukul 04.37.Akibatnya pukul 06.00 pagi di Kinali masih gelap, sedangkan di Bandung sudah terang dan lalu lintas sudah mulai ramai.
Kegiatan kami hari ini menuju kos anak di daerah Arca Manik, ngobrol lalu makan siang di rumah makan Padang depan gangnya. Setelah itu kami ke Kopo, tempat paman suami. Perjalanan ke daerah Kopo melewati daerah yang padat lalu lintas, sehingga perjalanan terasa lama, karena daerah Kopo memang sudah di pinggiran Bandung.
Bila kami ke kota lain kami memang lebih mengandalkan mobil on line, dan merasa sangat terbantu. Kecuali bila menginap di rumah saudara dan yang punya rumah memiliki mobil. Di atas mobil biasanya ada percakapan dengan sopir, sering ada banyak hikmah yang ditarik dari percakapan tersebut.
Saya pernah ngobrol dengan sopir yang mahasiswa tahun ke-3, pernah dengan sopir yang purnawirawan ABRI, pernah dengan seorang bapak yang istrinya sudah meninggal dan anaknya tiga orang di rumah, sopir itu malah sempat video call saat lampu merah menanyakan keadaan anaknya di rumah. Pernah bicara dengan seorang ayah yang bangga dengan prestasi anaknya karena disekolahkan dan dilatih oleh klub bulutangkis terkenal di Jawa Tengah.
Sore tadi kami ngobrol dengan sopir yang masih muda wajahnya, saat saya tanya anaknya dia mengatakan tiga orang. Kemudian saya tanyakan apa anaknya sudah sekolah, dia menjawab sudah SMA. Saya kaget, karena saya pikir anaknya paling tinggi baru kelas tiga SD. Rupanya dia menikah saat umur 22 tahun.
Kami bahkan bercerita tentang kepemilikan mobilnya, yang dia katakan dicicil 2,6 juta sebulan, dengan uang muka enam juta.
Kami memang sudah lama sekali tidak terikat utang atau cicilan dengan pihak manapun, tapi saya menghargai orang yang memiliki utang demi masa depan yang lebih baik. Seperti bapak sopir ini, angsuran mobilnya 2,6 juta sebulan, BBM minimal 100.000 rupiah sehari. Jadi untuk mobilnya minimal dia harus mendapat 200.000 sehari. Dengan seorang istri dan tiga anak yang sekolah SMA, SMP dan SD, maka minimal dia harus membawa pulang uang 300.000 rupiah setiap harinya..
Alhamdulillah, rezeki selalu ada, katanya, dan paling lambat pukul 8 malam dia sudah di rumah. Bandung memang menjengkelkan dengan padatnya lalu lintas dan macet pada akhir pekan karena orang Jakarta yang berkunjung, tapi itu juga pintu rezeki bagi sopir seperti bapak ini. Apalagi sepekan sebelum lebaran dan sepekan sesudah lebaran, itu masa panen raya bagi sopir di Bandung. Katanya pendapatan dua hari bahkan sudah bisa melunasi cicilan mobil sebulan.
Tiap orang punya cerita sendiri bagaimana mengais rezekinya. Saya paling pusingnya melihat kelakuan siswa di kelas. Tapi sopir on line menghadapi kepadatan lalu lintas, risiko kecelakaan, tuntutan cicilan mobil dan persaingan angkutan on line yang semakin banyak. Semoga selalu sehat dan murah rezekinya Pak sopir.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
