Bucin
Aku baru menyelesaikan makan siangku saat telepon genggamku berbunyi, ada panggilan masuk dari ibu. Aku segera mengangkatnya dan kudengar suara isakan ibu yang menanyakan apakah aku bisa saat itu menemuinya. Ibu tidak menjawab saat aku bertanya, tapi firasatku mengatakan hal yang aku khawatirkan terjadi lagi. Segera aku bersihkan tanganku dan meminta izin pada pak haji untuk menemui ibu.
Pak haji Rusdi adalah pemilik toko bahan bangunan tempat aku bekerja sekaligus tinggal di sana sejak aku tamat tahun lalu. Aku sedang menabung untuk mendirikan bengkel motor sesuai pendidikan yang aku dapat di SMK. Aku meninggalkan rumah karena lelah bertengkar terus dengan ayah. lelah melihat kelakuan biadabnya yang sering sekali melakukan kekerasan fisik pada Ibu. Lelah pada ibu yang tidak mau melaporkan ayah ke polisi apalagi meminta cerai.
Aku menemui ibu yang sebelah matanya bengkak dan sudut bibirnya berdarah. Darahku mendidih, aku paksa ibu untuk segera ke puskesmas membuat visum dan melapor ke polisi. Tapi ibu malah memohon agar aku tidak melakukannya. padahal ini yang ke tiga kalinya pada tahun ini. Aku ingin mencari ayah dan balas menghajarnya tapi ibuku juga menahanku agar tidak melakukan. Aku berteriak di depan ibu, apa yang ibu harapkan dari laki-laki bajingan itu. Seperti biasa ibu menjawab perlahan, “Dia ayahmu Nak, Ibu mencintainya.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
