Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Keracunan Gadung
Sumber: jernih.co

Keracunan Gadung

Tahun 2006 sampai 2008, saya mengikuti pendidikan S2 di Universitas Andalas, tentu jurusan biologi, seperti juga jurusan S1 saya. Untuk topik penelitian sebagai bahan untuk tesis saya meneliti tanaman gadung (Dioscorea hispida), yang saya teliti adalah struktur anatomi akar, batang dan daunnya.

 

Walaupun saya meneliti bagian organ vegetatifnya itu, tapi pada pendahuluan tentu juga disinggung apa manfaat dari gadung, yaitu bisa dikonsumsi. Dari sumber yang saya dapatkan dijelaskan bahwa gadung mengandung racun diosgenin dan dioscorine yang bisa mengganggu kerja system saraf pusat. Maka perlu penanganan yang tepat agar gadung dapat dikonsumsi dengan aman.

 

Tidak ada pada penelitian saya keharusan untuk mencoba bagaimana rasa gadung. Lagi pula seumur hidup saya belum pernah mengonsumsi gadung atau melihat orang lain mengolah gadung. Saya mengandalkan informasi yang saya dapat dari literature dan internet, maka saya mengolah gadung menjadi kripik.

 

Saya merendam umbi gadung selama tiga hari, mencuci dengan air mengalir berulang-ulang, lalumengeringkannya.Setelah itu saya membuat bumbu seperti membuat kripik singkong untuk gadung yang telah saya iris-iris.

 

Saya membuatnya tidak banyak, hanya satu piring kecil, saya hanya penasaran rasanya seperti apa. Saya hanya mempersiapkan diri bila penguji nanti bertanya, “Pernahkah Anda memakan umbi gadung yang Anda teliti ini? Maka saya punya penjelasan tentang hal itu.

 

Rasa kripik gadung yang saya buat enak, renyah dan gurih. Saya menghabiskan satu piring kecil itu. Walaupun di dasar hati saya punya keraguan juga dengan kadar racunnya, apakah benar-benar sudah habis? Karena itulah saya tidak mau mencobakan pada anak atau suami.

 

Ternyata yang saya cemaskan terjadi juga, sekitar 15 menit setelah saya mengonsumsi tubuh saya merasa tidak enak. Saya duduk karena kepala saya pusing, juga ada rasa mual  Kemudian saya memaksakan diri untuk muntah agar apa yang saya telan bisa keluar. Saat itu saya benar-benar khawatir ,dan berpikir apakah ini saatnya saya akan “pergi”.

 

Sekitar 20 menit saya dalam keadaan seperti itu, saat itu sore hari dan suami juga sedang keluar rumah. Saya memberitahukan anak penyebab saya seperti itu. Tetapi saya berusaha tenang, saya membaca doa-doa sepanjang keadaan itu. Saya tidak meminum obat apapun, saya hanya minum air hangat dan terus berdoa. Akhirnya perlahan-lahan rasa pusing dan mual saya mereda. Syukurlah Tuhan masih menyayangi saya.

 

Ketika bertemu dengan pembimbing pada pertemuan berikutnya hal itu saya ceritakan. Pembimbing saya seorang profesor perempuan yang hampir sebaya ibu saya.  Beliau kaget dan bersyukur saya bisa melalui hal itu dengan selamat. Bahkan saat seminar hasil, hal konyol itu beliau ceritakan pada dosen penguji yang lain, dan hal itu beberapa saat menjadi perbincangan sebelum saya diberi pertanyaan tentang materi yang saya teliti. Itulah pertama  dan terahir saya mencoba seperti apa rasanya umbi gadung.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post