Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bayi Kembar (Bagian 1)
Sumber: pngtree

Bayi Kembar (Bagian 1)

Bu Isti menahan tangan suaminya yang akan menampar Dita. Muka suaminya merah, terlihat dadanya naik turun menahan kemarahan yang luar biasa.

“Tidak akan merubah keadaan, Pak, sabarlah.”

“Begini jadinya, kalau semua kelakuannya kamu bolehkan! Ngelunjak dia, bikin malu keluarga!”

Dita tertunduk, sesekali terdengar isaknya.

“Maafkan Dita, Pak,” dia berusaha bersimpuh di kaki bapaknya. Pak Husin menarik kakinya lalu keluar rumah sambil membanting pintu hingga kaca jendela rumah bergetar.

Dita baru saja memberi pengakuan tentang kehamilannya, walaupun belum ada pemeriksaan medis. Dia bisa menyimpulkan karena sudah dua bulan tidak menerima tamu bulanan. Dita juga sudah memeriksa sendiri dengan alat yang dibelinya di apotek, dan alat itu memperlihatkan garis dua. Keluarganya akan menerima kabar itu dengan suka cita, bila kehamilan itu diharapkan. Tetapi keluarga mana yang mengharapkan kabar kehamilan dari anak berumur 16 tahun yang baru dua bulan sekolah di kelas 10.

Bu Isti menatap Dita dengan hati pedih, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari anak bungsunya. Sisa harapannya adalah laki-laki itu adalah pemuda mapan yang bisa bertanggung jawab dengan masa depan Dita.

“Siapa orangnya Dit?”

Anak perempuan hanya diam, hingga Bu Isti membentaknya.

“Doni Bu,” jawabnya tergagap.

Bu Isti mengira Doni adalah anak Bu Yuni yang bekerja di PLN, walau masih tenaga honorer tak apalah, setidaknya karena dia sarjana, masih ada harapan untuk menjadi karyawan tetap.

“Besok Ibu akan ke rumah Bu Yuni, gimana caranya sih kamu bisa kenal sama Doni itu?”

“Bukan Doni itu Bu,” Dita menyela.

Bu Isti kemudian tersandar di kursinya dengan lemas, setelah mendengar Doni adalah teman SMP Dita. Dia hanya sekolah satu bulan di SMK, lalu dikeluarkan karena ketahuan memakai narkoba. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti itu untuk menjadi suami anaknya?

“Kamu memang tolol ya Dit, gak mikir sama sekali akibat perbuatanmu.”

Dita kembali terisak saat menceritakan bahwa Doni di sini tinggal dengan pamannya. Sedangkan orang tuanya tinggal di provinsi sebelah. Setelah dikeluarkan dari sekolah Doni juga dikembalikan pamannya kepada orang tuanya, dan Dita tidak tahu alamatnya di mana. Bu Isti makin lunglai mendengar keterangan tersebut.

(Bersambung)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post