Kekeliruan yang Berakhir dengan Dam
Kamis malam tanggal 15 Juni 2023 rombongan kami sampai di Mekah sekitar pukul 22.00. Kami menginap di hotel Al Tayseer di daerah Jarwal Mekah, sebuah hotel berlantai 11. Saya, suami dan teman serombongan mendapat kamar di lantai 11.
Penyambutan rombongan haji di hotel tersebut istimewa, ada taburan bunga dari seorang gadis kecil, cendera mata berupa buku Kehidupan Nabi, air minum, wadah air zam-zam, kurma dan biskuit.
Setelah itu kamar-kamar dibagi, koper-koper dibagi. Proses itu memerlukan waktu yang lama. Karena kami anggota kloter 3 Padang semua ada 9 bus. Setelah dua jam koper kecil saya, suami dan teman sekamar saya tidak juga bertemu. Di kamar kami makan malam dan salat jamak takdim magrib dan Isya.
Sekitar pukul 01.00 semua anggota rombngan naik bus ke masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Rangkaian itu kami lewati di tengan penuh sesaknya jemaah haji. Setelah naik bus berjam-jam dari Madinah, kemudian tengah malam pula, maka fisik kami sudah lemah. Sementara umrah adalah ibadah yang memerlukan energi dan stamina yang kuat.
Kaki dan lutut saya betul-betul menjerit saat itu, tapi saya kuatkan. Bertahun-tahun saya menunggu momen untuk melaksanakan ibadah ini, masa saya harus menyerah hanya karena nyeri lutut. Alhamdulillah, setelah pelaksanaan tahalul kami melaksanakan salat subuh berjamaah di masjidilHaram kemudian baru kembali ke hotel untuk beristirahat.
Besoknya seorang teman serombongan bicara berbisik-bisik ke pada saya. ‘Saya punya masalah, tapi saya malu ketahuan orang lain.” Berarti saya dipercaya, sehingga dia tidak malu bicara ke pada saya.
“Ada apa?” tanya saya.
“ Sa’I saya tidak lengkap, baru empat, bagaimana ya?”
Saya kaget, kok bisa dia ceroboh seperti itu. Dia menceritakan, awal sa’I dia kebelet pipis, lalu mencari toilet sehingga tertinggal dari rombongan. Saat dia melakukan sa’I baru empat putaran, waktu salat subuh sudah masuk. Dia panik, lalu menyelesaikan sainya kemudian melakukan salat subuh berjamaah.
Saya menyarankan dia menemui pembimbing ibadah. Dia mematuhi saran saya, dan ternyata jalan keluarnya adalah membayar dam (denda) satu ekor kambing. Harga dam itu adalah Rp 2,6 juta. Dia menyesal sekali dengan kecerobohannya sehingga harus mengeluarkan uang yang semestinya bisa dia gunakan untuk keperluan yang lain.
Masih ada puncak ibadah haji pada tanggal 9 Zulhijah dan seterusnya. Saya berharap saya beserta suami bisa melaluinya tanpa hambatan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
