Orang Indonesia Lebih Kreatif
Setiap kembali ke hotel dari pelaksanaan salat berjamaah di masjid Nabawi saya melewati arus manusia yang banyaak sekali. Warna kulitnya berbeda-beda, tingginya beraneka, mereka bicara dalam bahasa yang berbeda. Semuanya bergerak menuju penginapan masing-masing.
Selesai salat zuhur dan asyar, cuaca betul-betul terik, matahari bersinar dengan sangat gagah perkasa. Selama sepekan di Madinah saat saya memandang ke angkasa saya menemukan langit biru cemerlang, tanpa sehelai awanpun. Bahkan saat azan magrib berkumandang, cuaca masih terang dan hawa panas masih terasa.
Saat dalam arus manusia itulah saya terpikir, seandainya ini di Indonesia, saya yakin ada puluhan gerobak yang menanti para jemaah yang keluar masjid. Tukang es dawet, es cincau, aneka jus, es puter, es krim, es podeng, bermacam-macam es pokoknya, dan pasti langsung ludes, karena panas bingiit.
Apakah perizinan di Madinah sangat sulit, atau ide kreatif mereka yang tidak ada? Saya rasa memang dilarang, takut menimbulkan tumpukan manusia dan kerawanan keamanan. Tapi saya yakin, bila di Indonesia akan ada berbagai cara agar mereka tetap bisa lolos berjualan.
Padahal, aduhai nikmatnya bila ada segelas es tebu atau es dawet yang diminum untuk meredakan dahaga pada waku tengah hari. Jadi demikianlah, di Madinah, di tengah siang yang terik dengan angin panas yang menyapu wajah, saya merindukan aneka macam pedagang kali lima di Indonesia.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
