Sundoku
Kata di atas berasal dari bahasa Jepang Tsundoku, kemudian dibahasaindonesiakan menjadi sundoku. Makna dari kata tersebut adalah perilaku seseorang yang suka membeli buku, tetapi buku tersebut tidak dibaca, hanya disimpan saja.
Hmm..saya kok merasa disindir, karena saat ini ada dua buku yang terakhir saya beli bulan Desember lalu, yang satu baru saya baca sekitar lima lembar, sedangkan yang ke dua baru saya baca setengah buku.
Apakah saya sibuk sekali? Ah, sama saja dengan dulu, malah sekarang lebih santai karena di rumah cuma berdua suami, dulu saat repot dengan anak, saya malah bisa menamatkan tiga buku dalam sepekan.
Barangkali orang lain juga ada yang demikian, tentu alasannya beragam, tapi saya yakin lebih banyak alasannya belum sempat, bukan tidak mau membaca.
Saya sendiri alasannya adalah...saya menghabiskan waktu dengan membaca novel on line di aplikasi. Saat ini ada sekitar tujuh novel bersambung yang saya baca setiap hari.
Setiap mulai membalik lembaran novel kertas, pikiran saya diganggu dengan, bagaimana ya lanjutan novel on line kemarin?
Kemudian saya membuka gawai, novel kertas lalu terabaikan.
Iya, buku yang saya beli pasti saya baca. Tahukah saat yang paling baik untuk membaca novel kertas? Di pesawat, saat gawai tidak boleh diaktifkan. Tapi kan saya tidak setiap bulan apalagi setiap pekan naik pesawat.
Dengan niat baik, yakinlah, saya tidak akan menjadi sundoku. Anda sendiri, ada yang saat ini melakukan sundoku?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
