Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sesal

Sesal

Aku terpaku, seakan tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Bang Rahmat, laki-laki telah aku kenal sejak aku kelas lima SD, yang menikahiku dua tahun lalu.

Sejak aku mengenalnya, dia adalah karyawan di toko sembako ayah, yang dimulainya sejak ia kelas 9, sebulan setelah ayahnya meninggal.

Ketika umurku 20 dan tak berminat lagi kuliah, ayah menjodohkanku dengan Bang Rahmat. Sejak saat itu aku menjadikannya suami dengan rasa tak berubah, bahwa dia adalah karyawan ayah, walau dia sudah menjalani usaha sendiri.

Setiap dia pulang berjualan, dia membawa lauk masak karena aku tak bisa memasak, setiap akan bekerja dia juga mencuci dan menjemur pakaian dulu serta merapikan rumah.

Tadi tiba-tiba dia berkata, "Maaf Lili, saya lelah menjalani ini, saya ingin memiliki istri sesungguhnya, tanpa rasa sungkan karena dia anak bos, saya menemukan perempuan itu dan akan menikahinya, kita berpisah saja."

Aku tak percaya dia bisa mengucapkan itu. Sesuatu terasa terhempas dalam hatiku,membuat rasa perih yang panjang. Aku tahu aku salah, aku bodoh, aku durhaka. Bagaimana mengatakan, bahwa aku sakit mendengarnya. Bagaimana mengatakan, sungguh aku ingin mengulang dari awal dan berjanji akan menjadi perempuan yang diidamkannya.

62
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post