Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Adab, Etika, Akhlak

Adab, Etika, Akhlak

Kata yang tiga di atas mengacu pada makna yang sama, yaitu sopan santun, dan hal itu makin hari makin terkikis. Apa yang salah pada anak sekarang yang makin hari makin membuat kesabaran kita makin menipis?

Hari ini saya mengajar di kelas 10, hujan lebat pagi ini membuat banyak yang terlambat, dan saya memaklumi. Rencana penilaian harian tetap dilakukan setelah hujan reda, 30 menit mundur dari jadwal.

Selesai penilaian, lembar jawaban telah dikumpul, ada ketukan di pintu kelas. Seorang anak bernama Fahri berdiri di sana, "Boleh masuk Bu?"

Saya tahu alasannya hujan, tapi saya bertanya juga, "Rumahmu tak begitu jauh dari sekolah, mengapa terlambat?"

Seandainya dia berkata, maaf Bu terlambat bangun, maaf Bu tak ada mantel hujan, maaf Bu, tak ada payung. Maka saya tidak masalah untuk menyuruhnya masuk.

Tetapi dengan cengengesan dia berkata, "Tadi sebetulnya niat saya gak akan pergi sekolah Bu."

Saya pikir saya salah dengar, jadi saya bertanya, "Maksudnya apa ya?"

"Iya, sebetulnya tidak niat sekolah hari ini, cuma ingat ada PH dengan ibu."

Barangkali dia pikir saya akan kagum dan tersanjung, tapi cara bicaranya membuat saya emosi.

"Ya sudah, kalau sudah niat lebih baik niatnya dilaksanakan, pulang sajalah."

Wajahnya tak terima, tapi saya mengulang lagi, "Kan sudah diniatkan, silakan pulang saja."

Akhirnya dia pergi, dan PBM saya lanjutkan. Mungkin saya salah, mungkin bukan begitu sikap guru yang baik, tapi adabnya bicara dan kalimat yang dia keluarkan tak bisa saya terima.

Beberapa hari lalu di kelas 12 saat saya sedang membahas materi di depan kelas, seorang anak kelas 12 lain bernama Jalil berdiri di pintu kelas.Saya bertanya, "Apa kabar Jalil?'

Dia menoleh sekilas pada saya, lalu dari pintu kelas dengan suara keras bicara dengan temannya di dalam. "Kamu bawa kan yang saya pesan? nanti jam istirahat saya ambil."

Sudah, tanpa menyapa atau menatap saya dia pergi. Tinggal saya yang terpana, tak habis pikir dengan sikap yang baru saja saya saksikan.

Dua pekan lalu di kelas 10 hal yang sebaliknya. Seorang anak di dalam kelas yang saya hadapi, tiba-tiba berteriak menyapa teman kelas lain yang lewat di depan kelasnya. Sikapnya biasa saja, seolah itu hal yang lumrah.

Hari ini status Facebook seorang teman saya guru SMA di kabupaten tetangga berbunyi, "Biarlah kurang pintar asal adabnya baik, dari pada pintar tapi tak beradab. Jadi nihiil." Apakah masalah yang sama merata dialami guru pada saat ini? Bagaimana lagi mengajarkan adab, etika dan sopan santun agar mereka paham?

Kalau memberi contoh yang baik tidak mempan, dinasehati tak digubris, ditegur dianggap angin lalu, apalagi yang bisa kita lakukan? Apakah kembali pada cara guru zaman dulu? Dengan membawa penggaris panjang dan memukul meja dengan keras? Melempar penghapus papan tulis? Menjewer telinganya? Ujung-ujungnya guru yang masuk penjara karena melanggar HAM.

Saya juga tak berharap murid yang membungkuk memberi hormat, murid yang selalu mencium tangan. Saya hanya ingin mereka tahu batasan mana yang sopan dan mana yang tak wajar, hanya itu.

166
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post