Ciplukan di Halaman
Saya dibesarkan di rumah dalam gang di tengah kota Padang. Kiri, kanan, belakang dempet dengan rumah tetangga, ada halaman di samping sedikiit untuk menjemur pakaian, di depan juga sedikiit untuk beberapa pot tanaman.
Saat saya ditugaskan menjadi guru di kabupaten paling utara di Sumatra Barat, saya menerima saja dengan antusias, kapan lagi saya mengenal daerah lain.
Sekian tahun merantau dan tinggal di desa, maka saya makin akrab dengan tanaman yang dulu tidak saya kenal apalagi ditanam di halaman rumah orang tua saya yang seuprit. Salah satu tanaman yang baru saya lihat di sini adalah tanaman ciplukan.
Bila teman sesama guru di sekolah bercerita waktu SD mereka mencari ciplukan di semak-semak, saya tak punya pengalaman itu. Tidak ada semak ciplukan di tengah kota.
Jadi saya mencoba memakannya saat menemukan ciplukan yang tumbuh liar, dan saya tak suka. Ada manisnya tapi ada langunya juga.
Sekian waktu berjalan ciplukan sering sekali tumbuh tanpa ditanam di halaman rumah, kadang sampai lima batang. Mereka sebentar saja sudah berbuah, lalu menguning, siap untuk dimakan.
Lama-lama saya suka dengan rasanya dan menikmati buah gratis di halaman itu. Setiap tampak ada anak ciplukan, maka akan saya rawat, lalu dia berbuah, dan saya panen buah ciplukan setiap hari hingga pohonnya mati. Bukankah mubazir ada rezeki datang tidak disyukuri dan dinikmati.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
