Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KTP Lama

KTP Lama

Hari ini saya ditemani suami pulang sekolah pergi ke ibu kabupaten untuk membayar pajak sepeda motor. Untuk membayar pajak motor syaratnya KTP asli, BPKB asli dan STNK asli, yang diserahkan di loket pendaftaran.

Sekitar 10 menit kemudian nama saya dipanggil di loket pembayaran. Biaya pajak motor saya Rp 180.000. Setelah itu saya menunggu sekitar lima menit untuk menerima berkas saya kembali. Mantap, lima belas menit urusan di Samsat rampung.

Masih berdekatan dengan kantor Samsat ada kantor Catatan Sipil. Saya dan suami ingin menukar KTP yang sudah buram, bahkan ada tulisan yang sudah sulit dibaca. Bismillah saja, semoga tidak ramai dan kami bisa mengurusnya.

Di bagian informasi saya menanyakan persyaratannya, kata petugas siapkan fotokopi selembar Kartu Keluarga, masukkan di map warna biru sekalian dengan KTP yang akan diganti. Saya juga diberi nomor antrian 039.

Suami saya pergi membeli map dan memfotokopi KK. Setelah itu nomor antrian mulai dipanggil, mulai dari 036, karena sebelumnya adalah jam istirahat.

Saya hanya menunggu sekitar lima menit, lalu nama saya dipanggil. Saya menyerahkan berkas dan menunggu sekitar 10 menit. Ketika pemanggilan berikutnya, KTP pengganti sudah diberikan. Saya menerima KTP baru yang kinclong dengan tulisan yang terang dan jelas.

Saya menanyakan KTP lama, petugasnya menunjuk kardus berisi beberapa KTP yang diletakkan di sana.

"Saya mau KTP lama saya digunting Pak "

Petugas itu tertegun, wajahnya heran.

"Saya tak mau KTP lama saya digunakan untuk hal-hal yang merugikan saya, banyak kejahatan bisa terjadi dengan KTP saya itu, pinjol misalnya."

"Tidak akan Bu, ini dikumpulkan untuk dibakar besok."

"Tapi saya tak melihat, saya mau sekarang digunting di depan saya."

"Saya tak punya gunting Bu," suara petugasnya mulai terdengar putus asa menghadapi Mak-mak ngeyel seperti saya.

"Lakukan sesuatu, pokoknya dirusak."

Akhirnya petugas itu melipat dengan keras sehingga kartu itu terlipat dua. Walau saya tak yakin dengan cara itu, tapi ya sudahlah.

"Sudah kan Bu?"

"KTP suami saya belum."

Petugas itu melakukan hal yang sama dengan KTP lama suami saya.

Petugas itu memegang kedua KTP yang terlipat itu. Wajahnya berkata, apakah masih ada tuntutan Ibu? "Saya harap, besok betul dibakar ya Pak, terima kasih," kata saya lalu meninggalkan loket.

Setelah itu kami ke loket yang lain untuk mengaktifkan KTP digital di HP, seperti saran petugas yang tadi. Urusannya cukup mudah, dengan syarat kita punya HP dan email yang aktif.

Hari ini urusan semua saya lancar, Alhamdulillah.

225
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post