TNGP di Harau
Menjelang ke Harau ada drama. Bus yang dipesan 12, sementara yang terisi enam buah. Kabarnya, karena banyak yang berangkat dengan mobil pribadi. Pemilik bus tidak mau tahu, bus berangkat kalau pembayaran lunas.
Kami yang peserta biasa tidak tahu bagaimana solusinya, karena saya sudah membayar Rp 75.000.
Yang jelas bus bergerak sekitar 9.30.
Di kabupaten Lima Puluh Kota ada penyambutan lagi, tari pasambahan, pidato dari yang mewakili bupati. Kami disuguhi kerupuk kuah dan bihun.
Di Harau boleh kegiatan kami menikmati alam, bersilaturahmi, salat, makan siang, berfoto. Saya sendiri saat di Harau malah gelisah memikirkan suami yang sendiri di Bukittinggi tanpa tahu tujuan pasti.
Ketika ada berita di grup bahwa bus enam langsung ke Bukittinggi tanpa singgah-singgah lagi, maka saya segera pindah bus dan untungnya ada tempat di sana.
Pukul 16.45 bus sampai di samping hotel Monopoli tempat berangkat tadi pagi. Saya berjalan ke tempat suami menunggu di parkiran depan hotel Monopoli dan langsung berangkat.
Kami tak ada berhenti di jalan, bahkan salat magribpun tidak, nanti saja di rumah dijamak dengan Isya. Kami akan melewati hutan di Simpang, di sana rawan longsor, maka ada perasaan agar segera melewati hutan tersebut. Syukurlah tidak hujan.
Kami sampai di rumah pukul 19.40 dengan selamat, Alhamdulillah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
