Durian
Sejak awal Desember durian terlihat di pasar, di pinggir jalan di daerah tempat tinggalku. Cerita di Facebook juga banyak yang membahas sedang menunggui durian jatuh di kebun, atau foto sedang membeli atau menikmati durian.
Saya tak terpengaruh, karena bukan pencinta durian. Kalau ada di rumah saya akan mencicipi sedikit, kalau tidak dapat tidak ada masalah sedikitpun.
Kemudian kami ke Kalimantan Tengah dari 21 Desember hingga 30 Desember. Ternyata pemandangan yang sama juga ditemukan di sana. Mobil terbuka yang penuh durian, orang menjual durian di pasar atau di pinggir jalan. Pokoknya durian di mana-mana.
Di rumah anak kami menantu dan anak saya menyukai durian. Menantu membeli pada teman sekantornya yang panen dari kebunnya. Mulanya ia membeli empat buah Rp 50.000, dua hari berikutnya ia membeli lagi delapan buah durian yang ukurannya cukup besar harganya Rp 100.000, memang murah. Saya membuatkan ketan untuk menemani mereka makan durian.
Durian yang banyak itu dua buah diantaranya saya buatkan tempoyak. Daging durian dilepaskan dengan bantuan sendok, lalu disimpan dalam wadah tertutup. Biarkan saja, minimal lima hari berikutnya sudah bisa dicampurkan dengan ikan atau udang menjadi lauk untuk makan.
Saat saya di Kalimantan seorang alumni menelepon, dia siswa wali saya dua tahun lalu. Dia menanyakan apakah saya ada di rumah. Saya katakan sedang di Kalimantan. Dia bertanya lagi kapan saya pulang. Walau heran, saya jawab juga.
Senin malam tanggal 30 Desember, baru 15 menit sampai di rumah dia menelepon.
"Ibu sudah di rumah?"
"Iya, baruu saja datang." Saya tak tahu apa urusannya dengan saya, tapi saya tak berharap dia datang saat ini.
"Bu, Mama saya sudah berapa kali nyuruh ngantar durian ke rumah Ibu."
"Oh..iyakah? Durian punya sendiri?
"Iya Bu. Bisa saya antar ke rumah Ibu sekarang?"
Saya bingung mau menjawab apa. Rumah tidak rapi karena sudah ditinggal 10 hari, tapi saya menghargai niat baiknya.
"Terima kasih ya, boleh, satu saja ya, Ibu cuma berdua."
Begitulah, sekitar 15 menit berikutnya, ada motor masuk halaman. Gio, murid saya itu datang dengan tiga buah durian yang cukup besar.
MasyaAllah, baik sekali nasib saya ya. Rezeki datang tanpa disangka-sangka.
Walau saya tak begitu menyukai durian, tapi rezeki dari Allah tentu tak boleh ditolak. Bahkan pada waktu yang tak terpikir sedikitpun, durian datang diantar ke rumah, tiga buah pula.
Di tempat Anda saat ini musim durian juga kah?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
