Sumpah Taoge
Hari ini saya masak soto. Bahannya seperti biasa, daging sapi, sohun, pergedel kentang dan taoge, serta printilan lainnya, tahulah ya, soto banyak sekali pelengkapnya.
Dari semua bahan itu mengapa foto taoge yang dimunculkan? Itu karena setiap saya masak taoge saya ingat sumpah yang saya ucapkan sekian puluh tahun lalu.
Duluuu, saat saya masih tinggal dengan ibu, setiap ibu memasak dengan bahan taoge, saya sering sekali disuruh membuang akarnya. Saya sudah membujuk dengan mengatakan saya akan cuci bersih berulang-ulang, tapi akarnya tak usah dibuang. Ibu saya, juga nenek saya menolak keras, tidak bersih, tidak enak dilihat. Terpaksalah saya kerjakan dengan hati yang mendongkol, karena membosankan sekali pekerjaan itu.
Suatu kali saat mengerjakan pekerjaan membuang akar taoge saya berkata dalam hati, "Suatu saat saya tentu menikah, punya rumah tangga sendiri, saat itu saya berjanji setiap masak taoge saya tak akan membuang akarnya, saya yakin masakan saya akan baik-baik saja."
Tahun berganti, saya menjadi dewasa, menikah dan menjadi istri dan ibu. Saya tepati janji saya, setiap masak taoge saya hanya mencuci, tidak pernah membuang akarnya. Anak sayapun tak pernah saya beri tugas membuang akar taoge. Rasanya semua masakan saya dengan bahan taoge tidak ada masalah.
Kalau Gajah Mada punya sumpah palapa, maka saya punya sumpah taoge, yang sudah saya lakukan selama 33 tahun pernikahan saya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
