Bunga Uang
Pulang dari rumah sakit membezuk Intan, aku singgah di rumah Nela karena belum salat asyar, dan aku takjub betapa mewahnya kediaman Nela dan perabotan di dalamnya.
Ada rasa minder dalam hatiku, mengingat kami menerima SK PNS pada waktu yang sama, dan memiliki suami yang juga PNS, bedanya suaminya di dinas pendidikan, sedang suamiku di kantor camat.
Selesai salat aku duduk di ruang tamunya meminum teh yang disuguhkan Nela. Saat itu ada tamu seorang perempuan muda dan seorang ibu sebaya ibuku. Aku lihat Nela menerima mereka di teras sambil membawa buku dan dompet. Tak lama kedua tamu itu pergi.
"Siapa Nel?"
"Biasa, nasabah," katanya sambil tertawa.
Aku memang tak paham, jadi aku bertanya lagi.
"Ah kamu Sin, pura-pura gak tahu. Atau kamu mau ikutan ga?, Sama kok dengan bunga bank daerah."
Aku terkesiap, aku memang pernah mendengar selentingan di kantor kabar ini. Kabar bahwa Nela punya usaha meminjamkan uang layaknya rentenir. Saat itu aku tak ingin bergunjing dan menganggap itu kabar bohong. Tetapi saat ini aku melihat bukti nyata di depan mata.
Aku habiskan tehku, mengucapkan terima kasih, lalu pamit dan mengambil motor yang kuparkir di halaman. Aku menggelengkan kepala, mengenyahkan rasa minder dan iri yang tadi menyapa. Aku dan keluarga hidup cukup dan baik-baik saja, dengan gaji dan tunjangan hasil kerja.
Kami tak perlu menimbun dosa dengan menjadi pedagang "bunga"
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan