Buta Huruf
Aku menghela nafas, rapor tengah semester genap Amin kembali diambilkan Rosi, pegawai tata usaha.
"Ini pengambilan rapor ketiga selama kelas 10, masa orang tuanya mewakilkan ke kamu terus."
Aku bisa memanggil kamu ke Rosi karena dia dulu juga muridku di SMA ini.
"Saya adik ayahnya Bu, kan sama saja."
"Tentu saja beda, lagipula kamu sepupu ayahnya, bukan adik kandungnya. Apa susahnya sih mengambil rapor anak."
"Ayahnya kerja di perusahaan yang ketat soal izin Bu. Ibu Amin punya dua balita yang susah untuk ditinggal. Ibunya buta huruf Bu, dia takut, tak percaya diri bila pergi ke kantor atau tempat resmi."
Aku mengerutkan kening, aku rasa Rosi berlebihan. Amin anak tertua, paling umur ibunya 35, bila ia menikah umur 19. Masa masih umur 35 buta huruf, tahun berapa ini?
"Betul Bu, orang tuanya dulu sulit sekali ekonomi, rumahnya di kaki gunung sana, jadinya tak sekolah."
Aku jadi melupakan hal yang lebih utama tentang rapor yang masih diambilkan Rosi. Malah lebih berpikir tentang ibu Amin. Di zaman semua orang memegang HP, apakah ibunya bisa menggunakan HP bila dia tak tahu satu hurufpun?
Akhirnya rapor Amin tetap diambilkan Rosi, dan aku berharap saat pengambilan rapor naik kelas bukan Juni besok, saya bisa bertemu ibu Amin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan