Calon Istri Untuk Papa
Aku tidak tahan lagi mendengar kalimat yang diucapkan Ibu, dan segera masuk kamar dengan tergesa. Ibu adalah panggilanku pada kakak perempuan papa, beliau datang ke rumah dengan Kak Raya anaknya, memberi arahan padaku agar mengi zinkan papa menikah lagi.
Memang tidak sopan meninggalkan Ibu dan Kak Raya dengan suamiku. Tapi dadaku sesak menahan tangis, tega betul beliau menasehatiku agar memikirkan mencari perempuan pengganti almarhum mama. Ibu pikir semudah itu menggantikan tempat mama dengan perempuan entah siapa.
Aku tertidur setelah menangis sekian lama, barangkali ibu sudah pulang karena tak kudengar suara percakapan lagi. Saat keluar kamar aku melihat suamiku duduk sambil minum kopi dan menyuruhku untuk segera salat asyar.
"Ibu sudah pulang?"
Suamiku mengangguk.
"Aku minta maaf kalau tak sopan, tapi aku tak bisa menerima ide ibu."
"Aku mengerti, tapi cobalah bayangkan dirimu pada posisi papa."
"Jadi maksud Abang, nantipun kalau aku mati Abang juga segera mencari pengganti aku?"
"Jangan alihkan topik kemana-mana Devi, kita hanya membahas papa. Hampir tiga tahun tak ada yang mengurusnya. Kamu gak kasihan?"
(bersambung)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan