Derita Lara
Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, aku harus tetap terlihat bersemangat walau letih mulai menyerang saat praktik setelah ishoma. Aku tertegun saat mendengar asistenku memanggil nama pasien, "Ibu Derita Lara!"
Seorang Ibu berumur 50-an memasuki ruang periksa. Hijabnya rapi, tubuhnya langsing tetapi yang mendominasi adalah matanya yang sendu.
"Nama Ibu betul Derita Lara?" tanyaku.
Ibu itu tersenyum.
"Saya sudah biasa ditanya begitu sejak saya TK Dok. Iya, itu nama saya. Panggilan saya Ita."
"Nama yang unik ya Bu," kataku selanjutnya.
"Karena kita tak bisa memilih nama untuk diri sendiri Dok. Ayah saya tergoda perempuan lain saat ibu hamil saya. Ayah menceraikan ibu lalu menikah dengan perempuan itu saat saya berumur dua bulan. Itu alasan Ibu memberi saya nama yang menyedihkan itu."
Saya menatap ibu itu dengan berusaha menyalurkan simpati.
"Alhamdulillah hidup saya bahagia kok Dok, saya guru SMA, suami saya dosen. Saya punya dua anak perempuan yang saya beri nama kebalikan nama saya.Yang besar Happy, yang bungsu Joy."
Saya ikut tertawa, lalu menyadari masih ada pasien lain yang menunggu giliran. Saya melihat pada lembar rekam medis dengan diagnosa kadar asam urat tinggi.
"Baik Bu, maaf tadi, menanyakan hal yang bersifat pribadi. Saat ini keluhan Ibu apa?"
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan