Kuini Kecut
Hari Senin lalu saat ke pasar saya membeli kuini. Sekilo harganya kalau tak salah 13.000, saya belinya hanya 10.000, dapat empat buah.
Setiap beli kuini saya meniru orang yang mencium baunya, saat itu bau khas kuini tercium. Karena sering dapat kuini berulat, saya menanyakan, "Ini berulat Dik?"
Jawabannya mantap sekali, "Ini semua dari satu pohon Bu, satupun tak pernah buahnya berulat."
Baiklah.
Saat makan sahur hari Selasa pagi saya mengupasnya, betul, tak ada ulatnya.
Tapi saya curiga dengan warna kulitnya yang pucat. Saat saya memakan seiris, setiap kunyahan terasa rasa asam yang luar biasa.
Saya tak sanggup meneruskan memakannya. Gantinya saya sahur dengan tiga butir kurma.
Itu berulang lagi tadi pagi, cuma ini warna dagingnya lebih kuning. Tetapi saat masuk mulut kembali sensasi kecut menyerang indra pengecap. Seperti kemarin, saya tidak kuat memakannya.
Mengapa demi uang penjual memanen buah yang masih muda? Padahal tidak akan lama menunggu hingga ia matang sempurna. Saat itu terjadi pembeli puas dan uang yang diterima lebih berkah. Bukankah di dunia ini yang dicari adalah keberkahan dalam hidup?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
