Air Sumur dan Air Galon
Tadi di kelas saya membahas enzim. Seperti yang sering terjadi, saat membahas materi tertentu kadang suka melebar ke mana-mana. Tadi melebar ke air yang dikonsumsi.
Saya bertanya, "Di kelas ini siapa yang dirumahnya masak air, diletak di ceret atau termos, tanpa menggunakan air galon?"
Eh, satu kelas tak ada yang mengacungkan tangan.
"Berarti semua minum air galon?"
"Iya Bu..."
"Di rumah kalian ada sumur? Sumber air bersih?'
"Ada Bu..."
Saya jadi heran sendiri. Kalau ada sumur dengan air jernih, lalu mengapa mereka masih minum air galon?"
Di rumah kami Alhamdulillah ada sumber air berupa sumur yang berair jernih, dan belum pernah kering walau kemarau sangat garang. Air yang jernih dari sumur itu rezeki. Jadi kami sangat menghargainya dengan cara mengonsumsinya. Air sumur itu direbus, disimpan di ceret, di termos, dimasukkan ke botol lalu disimpan di kulkas. Bukankah itu repot? Bagi saya tidak repot, biasa saja.
Saya tidak anti air galon. Di sekolah bila air dari tumbler saya habis, maka saya menambah dari air galon yang disediakan di sekolah. Tetapi untuk di rumah saya tetap akan memasak air. Mungkin jalan pikiran saya tidak praktis dan dianggap aneh, tapi saya merasa ini hal yang normal kok.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan