Kenangan KMI
Pada awal tahun 1989 saya kuliah di semester delapan, menghadapi semester akhir, persiapan wisuda. Saya ingin tidak lagi mengganggu ibu yang merupakan orang tua tunggal, sejak ayah meninggal saat saya semester tiga.
Saat itu kami berada pada titik terendah secara ekonomi. Ibu saya seorang guru SD dengan lima tanggungan, empat orang anak dan ibunya, nenek kami. Saya anak paling besar, masih kuliah. Masih ada tiga adik lagi yang semua butuh makan dan sekolah.
Saat itu saya mendengar ada KMI dari teman sekelas. KMI itu Kredit Mahasiswa Indonesia. Dengan surat permohonan, ditandatangani ketua jurusan diteruskan ke bagian registrasi lalu surat itu dibawa ke bank. Teman saya sudah cair uangnya, Rp 600.000. Uang itu nanti dicicil setelah kita wisuda dan bekerja.
Saya membayangkan uang yang sangat banyak. Karena uang semester saya hanya Rp 42.000. Itu bisa untuk biaya wisuda dan uang semester adik saya juga. Sisanya bisa untuk membayar utang ibu.
Surat-suratnya sudah lengkap saya urus, sampailah waktunya saya membawa suratnya ke bank. Saya masih ingat, BNI banknya. Saya sendiri pergi ke sana dengan segala keyakinan akan menerima uang tersebut.
Sampai di bank saya menanyakan bagian KMI. Saya diterima perugasnya, lalu beliau membaca berkas dalam map yang saya bawa.
"Dik, maaf ya, KMI sudah ditiadakan. Program ini sudah tidak ada lagi."
Saya merasa tidak percaya dengan apa yang saya dengar.
"Pak, teman saya uang KMInya cair tiga hari lalu, ditiadakan bagaimana maksudnya?"
"Begini Dik, kami mengkaji ulang program ini. Ternyata dari penelitian yang kami lakukan lebih banyak mahasiswa yang tidak membayar utangnya setelah mereka bekerja. Ijazah memang kami tahan, tapi mereka masih bisa bekerja dengan fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi. Kami mengalami kerugian dengan program ini . Mulai kemarin program ini berhenti."
Saya merasa dihempaskan setelah berada pada khayalan yang tinggi. Saya lupa siapa saya, saat bertanya pada petugas itu.
"Saya mau bertanya pada atasan Anda, di mana ruangannya?"
"Jawabannya akan sama Dik."
"Saya tetap ingin bertanya langsung."
Petugas itu terlihat antara kasihan tapi juga ingin melihat saya mendengar sendiri. Dia menunjukkan ruangan atasannya dan saya masuk sendiri.
Saya tidak tahu apakah beliau direktur bank atau kepala bagian, yang jelas saya mengetuk ruangan dan masuk.
Bapak itu bertanya apa yang bisa dibantu, dan saya bertanya dengan air mata yang berlinang.
"Apa tadi tidak ada yang menjelaskan?"
"Sudah, tapi saya tak percaya, saya ingin penjelasan dari Bapak."
Beliau mengulangi penjelasan yang sama, lalu beliau menelepon. Petugas yang tadi masuk. Di depan saya petugas itu ditegur.
"Mengapa urusan begini bisa langsung masuk ke ruangan saya? Masa begini saja kamu tidak bisa menyelesaikan?"
Petugas itu minta maaf pada atasannya, lalu mengajak saya keluar ruangan. Di luar ruangan dia mengatakan, "Kan sudah saya bilang."
Tapi saya tetap sakit hati mendengar atasannya berkata, seakan masalah ini sangat receh, remeh temeh yang menganggu kesibukannya.
Di luar bank saya berjalan dengan air mata mengalir, sampai saya naik angkot, tidak peduli tatapan orang lain.
Ternyata setelah itu tanpa KMI kuliah saya tetap selesai delapan semester, tetap bisa wisuda. Di bulan yang sama setelah wisuda saya ikut tes CPNS dan lulus.
Setelah itu saya bersyukur tak ada sangkut paut dengan KMI. Kalau kredit saya berhasil, tentu setelah itu saya harus membayar kredit tersebut.
Kalau saya mangkir seperti yang dilakukan orang lain, maka dosanya tetap membebani saya seumur hidup sampai ke akhirat.
Saya sungguh bersyukur bahwa saya tidak berhasil mendapat KMI.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan