Paranoid
Saat menyiapkan sarapan gawaiku berdering, aku melihat jam di dapur, pukul 05.30. Jauh dari anak dan saudara bunyi telepon di pagi atau malam hari membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Saat aku melihat nama penelepon, terpampang nama Wati, teman sesama guru di sekolah.
Aku ingat dua bulan lalu Wati juga nenelponku pada pagi seperti ini, mengabarkan bahwa Bu Ratna teman sesama guru yang telah pensiun yang rumahnya tak jauh dari rumah Wati meninggal dini hari itu. Jantungku berdegup lebih kencang saat mengangkat gawai, dan mengucapkan salam ke pada Wati.
Suara Wati ceria menjawab salamku, jantungku perlahan menjadi normal kembali.
"Ibu hari ini sekolah?" tanya Wati.
"Iya, ini lagi siap-siap mau berangkat, sedang buat sarapan. Ada apa Wati?"
"He..he, ga apa-apa Bu, saya bawa mangga, takutnya Ibu ga datang."
"Oh alhamdulillah, sudah matang ya Wat?"
"Iya Bu, tapi belum matang sempurna, takut terlalu lunak, jadi saya petik saja."
"Terima kasih banyak Wati."
Beberapa waktu lalu Wati bercerita mangga di halamannya berbuah lebat. Saat itu dia berjanji akan berbagi denganku bila mangga itu matang. Dia menjanjikan sekitar dua pekan lagi. Jadi hari ini dia menepati janjinya.
Aku menutup panggilan telepon itu dengan lega, melanjutkan pekerjaan di dapur yang kutinggal tadi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan