Harga Diri
Aku menyelesaikan kuliahku 3,5 tahun. Bukan karena terlalu pintar, tapi ingin segera bekerja. Lima belas hari setelah wisuda aku diterima di perusahaan tempat aku magang dahulu.
Di tengah kebahagiaan hidup sebagai karyawan baru, aku menerima satu pesan di gadgetku, dari Doni. Ia laki-laki yang dekat denganku setahun terakhir.
"Risa, aku sadar diri, kita sudah beda. Aku masih berjuang menyelesaikan skripsi, kamu sudah punya gaji. Lebih baik kita memilih jalan sendiri-sendiri. Maafkan aku ya."
Aku tertegun, padahal aku tak pernah mempermasalahkan ini. Aku juga baru bekerja 10 hari. Tapi ternyata itu menginjak ego dan harga diri seorang laki-laki.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan