Tidak Diakui Sebagai Anak
Dua hari ini media sosial dipenuhi berita murid SMA di Banten yang merokok lalu ditampar kepala sekolah. Kemudian 600an siswa SMA itu menuntut si kepsek dilengserkan.
Kekerasan fisik memang tidak dianjurkan dalam pendidikan. Tetapi membiarkan siswa yang sudah jelas merokok di depan mata juga tidak mungkin dilakukan. Tindakan paling kasar yang pernah saya lakukan adalah dengan kalimat," Otakmu memang ga dipakai ya, buang rokokmu itu."
Walau saya yakin besoknya mereka merokok lagi.
Bagaimana dengan anak kandung? Saya punya satu anak laki-laki. Saya ingat saat dia masih kelas lima SD saya bicara padanya.
"Mama gak mau kamu nanti jadi perokok."
"Ya enggaklah Ma, baunya saja aku ga suka "
"Sekarang bilang gitu, siapa tau nanti sudah SMP kamu terpengaruh."
"Engga akan Ma.'
"Kamu tahu, Mama gak akan mengakui kamu anak mama lagi kalau kamu ngerokok."
Ya tidak mungkin lah saya begitu. Tapi nyatanya sampai sekarang, dia sudah tamat kuliah, sudah bekerja dia tak merokok. Padahal dia kuliah di seni, yang satu kos ngerokok semua.
Alhamdulillah saat ini suami saya tak merokok, anak laki-laki saya tak merokok, menantu sayapun tidak merokok.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan