Nikmati Hidupmu
Aku menyapa Eva yang melewati mejaku di kantor, aku memegang tas Eva, "Ini resletingnya rusak, kamu gak tahu?"
Eva menatapku lalu tersenyum.
"Oh, iya, ga apa-apa kok, tasnya masih kuat."
Aku diam, setahuku tas itu dipakainya setiap hari selama setahun terakhir. Bukan tas merk mahal, tas yang bisa dibeli pada toko biasa di pasar. Aku tidak menjawab lagi, Eva betul-betul tak bisa di nasehati.
Eva terlihat lusuh, bisa dihafal jumlah pakaiannya, sepatunya sederhana. Tidak ada perhiasan. Dia zalim pada diri sendiri, itu yang aku tidak suka. Dia menumpuk emas batangan, dia membeli tanah di mana-mana, tapi dia memakai tas dengan resleting rusak.
"Dengar Eva, ini kali terakhir aku bicara. Kalau jelas kamu tak mampu, aku akan berempati setulus hati dan akan membantu. Tapi kamu kaya raya, hartamu tak terkira. Itu untuk apa Eva? Kalau umurmu pendek, suamimu akan menikmati itu semua dengan istri barunya. Nikmati hidupmu Eva, jangan zalimi lagi dirimu."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan