Sepi
Dulu, tak ingat di mana, Rima pernah membaca bahwa kesepian itu lebih mematikan dari pada penyakit karena infeksi atau sejenisnya. Saat itu dia tertawa tak percaya.
Dia muda, pusat perhatian karena wajahnya yang rupawan dan orang tua berada. Tak ada yang perlu dicemaskan. Masa depannya terang benderang seperti cahaya matahari tengah hari.
Tapi wajah cantik ternyata tak membuatnya segera diajak ke pelaminan. Sekian orang laki-laki, datang mendekati, lalu begitu saja pergi, tak ada kata pasti.
Ada satu orang, Rudi. Selalu setia dan gigih mendekati, tapi Rima tak ada rasa. Dia bertahan, menunggu Rima memberi lampu hijau, tapi tak jua datang isyarat yang diharapkan. Rudi akhirnya menikah dengan perempuan 10 tahun lebih muda, mungkin awalnya tanpa cinta, tapi orang melihatnya bahagia dengan tiga anak perempuan yang salah satunya bernama Rima.
Rima kemudian tersadar saat temannya mengatakan mencari SMP untuk anaknya. Ada yang bercerita anaknya mendapat piala lomba ini dan itu. Dia tak punya siapa-siapa. Orang tuanya telah tiada, dia anak tunggal, dan belum ada juga yang datang melamarnya.
Sesekali dia ingat tulisan tentang kesepian yang mematikan itu. Dia masih berusaha menidakkan dengan mengatakan bahwa tulisan itu bohong semata.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan