Bukber, Apa Harus?
Selasa 24 Februari, hari ke dua belajar di bulan Ramadan, wacana bukber kelas mulai bergulir. Ada yang sikut-sikutan menyuruh temannya menyampaikan. Saya melihat dan paham arahnya, tapi pura-pura tak mengerti.
Akhirnya ketua kelas mengacungkan jari.
"Bu, teman-teman menyuruh menanyakan, kita kapan bukber kelas?"
Saya diam menatap mereka lalu tersenyum.
"Ibu golongan bukan penyuka bukber."
Yah, Ibu...
Saya lalu menjelaskan bahwa saya pribadi selalu merasa tak nyaman dengan suasana bukber. Karena berbuka puasa itu nyawanya di suasana rumah, bukan di suasana ramai, bahkan yang kadang berebutan makanan. Salat magrib saat bukber tidak khusuk bahkan kadang terlewat salat tarawih.
Saya mengatakan sebagai wali kelas saya bertanggung jawab dengan keselamatan siswa yang pulangnya malam, paling cepat pukul 8 malam. Kalau ada apa-apa di jalan tentu orang tua mereka menyalahkan saya.
"Jadi, ibu minta maaf tidak bisa ikutan bukber dengan kalian. Kalau mau bukber juga, silakan lakukan dengan terencana, tertib dan selamat."
Akhirnya mereka menerima keputusan yang saya berikan.
"Kalau makan bersama sesudah lebaran atau halal bi halal, ibu bersedia. Silakan datang ke rumah ibu."
"Baik Bu, kami datang halal bi halal nanti."
Ok, masalah selesai. Ada yang seperti saya juga? Golongan yang tidak menyukai bukber?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan