Sejuta yang Memisahkan Kita
Saya punya teman SD, baiklah kita sebut saja Nina. Tahun 2014 pertama kali dia menelpon saya, mengatakan dapat nomor telepon saya dari teman SD yang lain. Dia mengatakan kangen lalu menanya kabar dan keadaan, biasalah adab orang yang sudah sekian tahun terpisah.
Saat itu kami sudah punya WA alumni SD, dia tidak tergabung. Jawabannya saya ketahui setelah itu. Saat saya ke Padang lalu singgah di rumahnya. Dia tinggal masih di rumah saat SD dulu. Rumah itu dijadikan kos-kosan, tiga pintu. Dia sendiri tinggal di rumah utama.
Keadaannya sangat terbatas, karena sudah pisah dengan suami. Setelah pisah dia kembali ke Padang. Dia bekerja di sebuah laundry tak jauh dari rumahnya. Saat itu saya melihat HPnya, Nokia jadul yang hanya bisa telepon dan SMS, bahkan layarnya diikat dengan karet gelang. Saat pamit saya menyelipkan uang 50.000 ke tangannya.
Setelah itu kami masih saling sapa, seringnya SMS, bukan chat WA, karena memang HPnya terbatas. Puncaknya suatu hari dia mengatakan akan ke Jakarta menghadiri wisuda anaknya. Dia meminjam uangku sejuta untuk ongkosnya, dia akan naik bus. Saya merasa iba, karena anak saya juga menjelang wisuda, dan membayangkan seandainya saya menjadi dia. Saya mentransfer ke rekeningnya, dan dia berjanji membayar pada tanggal satu bulan depannya, 20 hari dari saat itu.
Awal bulan datang dia tak berkabar, satu Minggu saya menunggu, saat saya SMS dia berjanji melunasi secepatnya. Hal itu berulang pada pekan-pekan berikutnya. Setelah itu SMS saya tak dijawab, telepon tak diangkat.
Ketika ada urusan ke Padang saya singgah di rumahnya, dia masih saja berjanji. Saat ke Padang berikutnya, dia sudah pindah bekerja di tukang soto, dan uang sejuta itu masih saja berupa janji. Setelah itu saya dengar dia kembali tinggal di Jakarta, dan nomor Hpnya tidak aktif.
Waktu berlalu, tiba-tiba suatu hari dia menjadi anggota grup WA alumni SD. Hari itu dia menyapa anggota grup dan mengatakan kangen si ini, kangen si itu. Saya yakin dia tak ingat saya juga anggota di sana. Di tengah keriuhan dia mengirim chat itu, saya mengirim pesan di grup. "Hai Nina, ini Yanti, dengan saya ga kangen?"
Detik itu juga tertulis di layar hp saya, Nina keluar dari grup. MasyaAllah, saya tidak tahu harus menangis atau tertawa, segitu tak niatnya dia membayar utang. Karena nomor hpnya tidak aktif lagi.
Cerita yang hampir mirip berulang. Saya dimasukkan kembali ke grup alumni SMP oleh teman. Dulu saya keluar karena rame sekali, tiap menit ada postingan berpuluh-puluh ada foto berpuluh-puluh. Teman saya mengatakan sekarang sudah berbeda, makanya saya setujui.
Eh ternyata, Nina aktif di sini. Sering posting video, sering menyapa si anu-si anu. Kali ini saya memilih langsung japri. Saya menanyakan kabar, lalu mengingatkan bahwa dia sudah berutang sejuta selama 11 tahun pada saya.
Pesan saya tidak dibaca! Centang satu berwarna kelabu. Saya mengirim pesan besoknya, tetap sama, tidak dibaca. Tiga hari lalu di grup SMP itu dia menulis,"Teman semua minta doanya ya, saya jatuh. Bahu saya sakit sekali digerakkan." Lalu muncullah beruntun komen dan doa dari teman-teman.
Salahkah jika jiwa iblis saya muncul? Salahkah saya lalu berkata dalam hati, "Barangkali karena dosamu pada saya tuh!" Jadi saya kembali mengirimkan chat japri.
"Semoga segera sehat ya Nina. Barangkali teguran Allah agar segera membayar utang."
Pesan itu berhari-hari tetap centang satu berwarna kelabu.
Baiklah, terbukti bahwa utang itu memang bisa membuat orang menjadi jahat. Uang sejuta bisa memisahkan pertemanan. Orang yang berutang tidak menyadari balasan kelak yang akan dia terima. Sementara saya, Alhamdulillah tetap dicukupkan Allah walau kehilangan uang sejuta.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan