Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Abangku (2)

Suatu hari Bu Wita tidak datang, guru matematika kami itu mengirimkan tugas berupa 10 buah soal yang harus dikerjakan selama dua jam pelajaran. Saat aku dan Dea sibuk mengerjakan tugas itu, dari arah belakang terdengar bisik-bisik dan cekikikan dari Cindy dan Nela. Aku menajamkan pendengaran, dan terdengar lagi kata Fadil-Fadilnya. Hadeeh, mabok banget mereka karena abangku.

""Bikin terpampang, berisik mulu." kataku sambil menoleh ke belakang.

Cindy malah memukul meja dengan penggarisnya, "Urusan kamu apa, kalau kamu rajin, rajin sendiri deh. Aku sama Nela juga lagi mempersiapkan masa depan."

Dalam hatiku, masa depan? Cih..sudah diklaim aja kayanya abangku sebagai calonnya. Dia pikir aku ini ikhlas juga jadi iparnya.

Saat mengumpulkan tugas matematikaku ke ketua kelas, aku melihat Cindy menyontek tugas yang dibuat Ria. Idiih, dari tadi ngomongin cowo, giliran tugas bisanya nyontek aja. Tiba-tiba suatu ide melintas di otakku.

Pulang sekolah ide itu aku wujudkan. Aku cari di galeri HPku fotoku dan Bang Fadil yang terlihat "mesra". Kebanyakan malah foto yang konyol, atau ada mama papa. Akhirnya ketemu satu, lumayanlah. Bang Fadil merangkul bahuku, dan kami berdua sedang tertawa lebar. Itu sebulan yang lalu saat kami dan mama papa sedang makan di mal.

Segera aku ganti foto profil WAku dengan foto itu. Lalu aku buka grup WA kelas. " Teman-teman, info dong PR kimia besok di buku paket halaman berapa ya, lupa." Tak lama grup kelas diberondong bunyi pesan masuk. Aku tertawa keras di kamar. Kena! perangkapku menangkap mangsa.

Aku kemudian membuka grup WA kelas

Iva: Diem- diem aja selama ini

Yola : Kejutan banget Firda, ga nyangka..

Beni : Katanya tolak pacaran..

Syifa: Kayanya jodoh deh, mirip wajahnya

Aku makin tertawa, membayangkan reaksi abangku kalau dia tahu hal ini.

Tiba-tiba bunyi nyaring berbunyi dari HPku, "Cindy memanggil..." kata itu terbaca di layar HPku.

Aku membayangkan Cindy yang penuh emosi saat

ini, atau wajahnya penuh air mata?

Aku tak mengangkat telepon dari Cindy, biarlah semalaman ini ia menangis hingga matanya bengkak. Salah sendiri, enak saja membentak-bentakku saat diingatkan baik-baik.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post