Bunting?
Di kantor mejaku bersebelahan dengan Demi, guru kimia baru yang sebaya dengan anak tertuaku. Anaknya manis, sopan dan selalu siap membantuku yang katanya juga seumuran dengan ibunya.
Siang itu aku kosong dua jam, setelah salat duha aku berjalan menuju kursiku. Aku melihat Demi sedang menelepon dengan suara pelan. Aku terperangah ketika mendengar kata, "..Mi bunting Bu."
Hah..dia menelepon ibunya setenang itu mengatakan kehamilan pakai istilah kasar pula, bunting? Sungguh di luar prediksi, anak sesopan dan sebaik ini ternyata sudah rusak.
Aku diam saja, duduk di kursiku mengeluarkan buku tugas siswa yang akan kuperiksa.
"Ga repot kok Bu, walau pertama juga."
Telingaku makin menajamkan pendengaran, percakapan mereka bisa sesantai itu untuk topik yang setragis itu?
Kemudian Demi mengucapkan salam lalu menutup telepon. Dia menoleh padaku, sambil mengeluarkan kotak bekalnya.
"Nanti siang makan bareng ya Bu, Demi bawa banyak, cobain deh, enak Bu."
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk. Tidak ada kekhawatiran apapun di matanya, suaranya tenang dan wajahnya tersenyum.
"Memang bawa lauk apa?" tanyaku.
Dia tersenyum lagi.
"Belajar dari YouTube Bu, bikin gulai cumi bunting. Baru pertama buat Bu. Ternyata tidak sulit kok. Nanti cobain ya?"
Ya Allah aku minta maaf. Telingaku yang sombong, hingga membuatku berpikiran buruk pada gadis baik di sebelahku.
"Wah, aromanya sedap Mi. Iya nanti pasti ibu coba. Makasih ya."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan