Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Di Luar Prediksi

Setelah penilaian tengah semester ada tanggal merah yang bersambung dengan hari Minggu. Siswa waliku membujukku agar mau jalan-jalan ke luar daerah, dekat saja ke Bukittinggi. Setelah kepala sekolah mengizinkan saya mengiyakan dan menyuruh mereka mengurus transportasi dan berapa iyurannya.

Suatu sore Fajar ketua kelas meneleponku, ia melaporkan bus sudah dapat, harga carterannya sudah deal. Setiap siswa iyuran Rp 200.000, di luar konsumsi.

"Semua pergi kan?" tanyaku, siswa waliku sekelas 32 orang.

"Vina gak Bu, katanya ga dibolehin orang tuanya.

Saya lalu berpikir, Vina yang mana ya, maklumlah, ini baru setengah semester, belum semua siswa saya kenal namanya.

" Coba bujuk lagi, masa dia sendiri yang gak ikut."

"Saya usahakan Bu."

Setelah itu, saya segera melihat data siswa. Pekerjaan ayah Vina petani, ibunya adalah ibu rumah tangga. Barangkali masalah keuangan, kalau karena itu biarlah saya yang membayarkan.

Besoknya Fajar menelepon lagi.

"Bu, Vina tetap gak ikut, tetap gak diizinkan orang tuanya."

"Fajar, biar Ibu saja yang bayar iyuran Vina, jangan karena masalah keuangan ada teman yang tertinggal sendiri."

"Eh..bukan itu Bu..eh.."

""Eh..eh melulu, udah bilang sama Vina, gak usah tahu teman lain. Pokoknya ikut saja. Iyurannya sudah beres."

"Bu, besok jam istirahat Vina saya suruh ke kantor menemui Ibu ya. Biar Ibu bicara langsung."

"Oh, boleh."

Jam istirahat seorang anak perempuan berdiri di pintu kantor, dia memberi salam padaku. Oh ini yang Vina, kataku dalam hati.

Aku menyuruhnya duduk.

"Mengapa tidak ikut jalan-jalan ? Cuma kamu sendiri lo. Kalau masalahnya iyuran, gak usah dipikir. Kamu tinggal pergi, Ibu yang bayarkan."

Aku melihat wajahnya kaget, lalu menggelengkan kepalanya.

"Maaf Bu, orang tua saya memang agak ketat. Saya anak tunggal Bu. Katanya, mama hamil saya setelah tujuh tahun menikah. Saya sangat dijaga Bu, gak pernah diizinkan pergi jauh tanpa orang tua. Sebetulnya saya juga ingin, tapi sejak SD begitu. Setiap ada acara sekolah orang tua saya akan mengganti dengan kami pergi bertiga."

Saya mulai merasa tidak enak dalam hati. Pergi bertiga?

"Sekarang gantinya ke mana?"

"KL Bu, kan dekat, dua malam saja."

KL itu Kuala Lumpur kan? Dekat, dua malam saja? Ini sebetulnya anak siapa? Saya saja sampai sekarang belum punya paspor. Saya tak lagi ingin menahannya lebih lama.

"Oh begitu. Baiklah Vina, selamat berlibur ya."

Ketika anak itu meninggalkan kantor, Bu Mira mengatakan bahwa kebun sawit ayah Vina itu belasan hektar. Dia juga punya kolam lele yang dipasarkan sampai keluar provinsi.

Saya terdiam, pantas saja kemarin Fajar di telepon terdengar aneh saat saya mengatakan akan membayarkan iyuran Vina yang 200.000

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post