Syukur Tiada Terkira
Reuni kali ini lebih sedikit pesertanya dari biasa. Beberapa teman yang tidak datang punya alasan berbeda, tapi umumnya menyangkut kesehatan.
Ada teman yang tiba-tiba drop karena kadar gula darahnya naik. Ada yang sangat siap pergi lalu malamnya disenggol motor. Ada yang suaminya sakit atau orang tuanya sakit.
Akhirnya bus yang dicarter banyak yang kursinya kosong. Seorang teman minta izin membawa keponakannya yang tinggal di Bandung. Keponakannya suami istri dan bayi yang digendongnya.
Sampai di vila saat pembagian kamar saya sekamar dengan seorang tenan perempuan dan keponakan teman itu dan bayinya. Saat saya bertanya, "Berapa bulan bayinya?"
Saya terpana saat dia menjawab, "Dua tahun Bu, kemarin ulang tahunnya. Anak saya istimewa Bu, sipi."
Saya berusaha memahami, apakah sipi itu CP, cerebral palsy? Ternyata iya. Bayi itu memang istimewa, hanya bisa telentang. Tidak ada suara, hanya merengek lirih.
Saya membayangkan cucu kedua saya, umurnya sama, dua tahun juga. Saya mengucapkan syukur, alhamdulillah. Bukan untuk menyukuri bayi itu, tapi untuk anugerah cucu saya normal, tumbuh kembangnya baik. Dia bahkan sudah tahu huruf dan angka serta nama warna.
Reuni kali ini bukan sekedar bertemu teman lama. Selain itu menyadarkan bahwa kami beruntung, cucu saya normal dan tumbuh dengan baik.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan