Tercecer
Kemarin saya dahulu pulang dibanding teman-teman. Mereka kembali hari Minggu dengan bus berombongan ke Jakarta, sedang saya hari Minggu naik pesawat ke Padang. Sehingga saya harus ke Jakarta hari Sabtu.
Kemarin saya naik KA Papadayan ke Jakarta, tepatnya ke stasiun Gambir. Pukul 12.40 dari stasiun Garut sampai di Gambir pukul 18.00.
Kami menginap di hotel Asyana Kemayoran.
Tadi pukul 7.30 kami naik taksi online ke bandara Soekarno-Hatta. Menjelang berangkat ada sesuatu yang tak nyaman di hati. Saya terpikir hanya tentang penerbangan, apakah saya ketinggalan pesawat? Padahal jadwal penerbangan saya 9.40. Tetapi di aplikasi saya tidak bisa lagi check in on line, karena sudah ditutup.
Saya mengatakan pada supirnya, "30 menit bisa gak Pak?"
" Saya usahakan Bu."
Setelah itu saya menjadi deg-degan juga karena taksinya melaju kencang.Untungnya lalu lintas lancar karena hari Minggu pagi.
Kami turun di terminal tiga, saya mencoba check in mandiri dengan mesin, tapi tidak bisa diklik. Saya makin merasa akan ada yang terjadi. Saat mendekati counter Garuda saya melihat antrean yang panjang. Suami saya yang maju untuk check in, saya menunggu di luar antrean. Saat melihat mesin check in, saya mencoba lagi, ternyata bisa.
Boarding pass itu saya berikan pada suami, dan dia melanjutkan antre untuk memasukkan bagasi.Setelah selesai kami berjalan ke ruang tunggu yang jauh, berjalan sekitar 15 menit dengan perasaan ingin buang air kecil. Setelah ke toilet, kami memasuki ruang tunggu. Barulah saya lega karena urusan check in sudah beres.
Saat pengumuman terdengar agar jurusan Padang naik ke pesawat, kami segera masuk antrean. Saat itulah saya baru sadar sweater saya tak ada. Saya berlari ke kursi tempat saya duduk tadi, tidak ada apa-apa tercecer di sana.
Sweater itu dari hotel memang tidak saya pakai, saya letakkan di bagian atas tas plastik berisi oleh-oleh yang saya jinjing. Entah di mana tercecernya, saya tak menyadari. Bisa di taksi, bisa saat check in, bisa di toilet.
Sweater itu baru saya beli menjelang ke Garut, sehingga dia berfungsi hanya empat hari. Saya beli secara on line dengan harga dan ongkos kirim 91.000 rupiah.
Tapi semakin tua ini saya berusaha tidak terlalu sedih atau sangat menyesali. Saya mencoba mengalihkan perhatian ke pada hal yang menenangkan.
Seandainya saat ngebut tadi taksi saya kecelakaan di jalan tol menuju bandara, apa yang terjadi dengan saya dan suami. Seandainya taksi saya mogok dan saya terlambat lalu ditinggalkan pesawat. Berapa rupiah harus keluar uang untuk membeli tiket baru, dan apakah tiket masih ada?
Siapa tahu takdir yang tertulis di buku nasib saya pagi ini saya akan mengalami musibah. Tetapi karena doa saya, karena salat duha sebelum saya meninggalkan hotel, maka musibah saya ditukar dengan kehilangan sweater murah seharga 91.000.
Setelah itu saya menaiki pesawat dengan tenang. InsyaAllah saya bisa membeli sweater baru untuk penggantinya. Alhamdulillah penerbangan kami lancar dan kami sampai di rumah dengan selamat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan