Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Buta Perkalian

Saya masih ingat saat kelas tiga SD diberi tugas menghafal perkalian, dari perkalian satu, hingga perkalian 10. Setiap hari pada setiap kesempatan saya menghafal, sambil duduk, sambil berjalan ke sekolah. Ketika tiba giliranku dipanggil Bu guru ke depan saya bisa menyelesaikannya. Perkalian itu tersimpan di otakku hingga sekarang, tidak perlu kalukalator bila perkalian sampai seratus.

Ketika saya menjadi guru, saya menyadari anak sekarang tidak hafal perkalian. Apakah metode menghafal dan didengar guru itu tidak ada lagi? Atau anak sekarang berprinsip ada kalkalutor untuk apa repot menghafal.

Ada kisah yang cukup membuat saya tersentak tentang hal ini. Pada saat Idul Adha bulan yang lalu, saya, suami dan lima teman berkurban satu ekor sapi di sekolah. Penyelenggaraannya di halaman sekolah dibantu tetangga dan guru yang tinggal di sekitar sekolah. Dagingnya selain untuk peserta kurban juga untuk masyarakat sekitar sekolah.

Saya sendiri juga membantu menimbang daging dan mengelompokkannya sebelum masuk ke kantung plastik. Target kami adalah dapat 100 tumpuk daging dengan berat setiap tumpuk adalah 0,5; kg.

Seorang siswa kami bernama Rini yang tinggal dekat sekolah ikut membantu. Saya memintanya menghitung sudah berapa tumpuk yang selesai. Daging itu dibuat 9 tumpuk ke samping dan terus ke bawah, karena ukuran plastik alasnya tidak cukup untuk memuat 10 tumpuk ke samping

Anda tahu apa yang dilakukan Rini? Dia menghitung satu- satu sampai hitungan ke 72.

Saya terpana, " Kamu hitung satu-satu?"

Dia juga menatapku heran. "Kan Ibu suruh hitung."

"Kan bisa dihitung berapa ke samping berapa ke bawah, lalu dikalikan." Jawabku.

Wajahnya terlihat bingung, dia tidak paham hal sesederhana itu.

"Coba hitung ke samping berapa tumpuk?"

"Sembilan Bu."

"Kalau ke bawah?"

Dia menghitung, "Ada delapan Bu."

"Nah, tinggal dikali, sembilan kali delapan, berapa Rin?"

Wajahnya bingung, dia menggeleng tak paham.

"Sembilan kali delapan itu tujuh dua, kamu gak perlu capek menghitung satu-satu."

Saya tetap melihat wajahnya yang kebingungan. Padahal itu hal yang mudah, bukan matematika rumit. Hingga selesai pembagian daging itu, Rini tetap menghitung setiap tumpuk sampai selesai dengan mulut komat-kamit. Saya sungguh merasa prihatin.

Syukurlah guru saya saat kelas tiga SD menyuruh saya menghafal perkalian. Sehingga ada beberapa hal menjadi lebih mudah bagi saya dalam menjalani kegiatan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post