Keinginan
Dua pekan lagi aku dan Rima teman se kos wisuda. Hari-hari ini hanya mempersiapkan berkas untuk wisuda dan peminjaman toga.
"Aku ingin punya suami kaya," tiba-tiba Rima berkata setelah kami selesai makan malam. Aku tersenyum.
"Kamu kira aku gak mau?"
"Serius Tiwi, aku bosan hidup pas-pasan, gak tau daerah luar karena gak pernah jalan-jalan yang jauh. Umur segini saja aku gak pernah naik pesawat."
"Akupun gak pernah Rima."
Rima terdiam lalu berkata, "Menurutmu, di mana kita bisa dapat suami kaya?"
"Aldi bagaimana?" Tanyaku.
Rima menghembuskan nafas.
" Suami itu akan bersama kita tiap hari, aku juga perlu wajah yang enak dipandang."
Aku membayangkan Aldi, dia donatur di kelas setiap ada kegiatan. Aku menyadari tak boleh mencela ciptaan Tuhan, tapi bagiku yang menganggu bau mulutnya.
"Kamu bisa dekati Riko," kataku mengingatkan cowo yang bawa mobil ke kuliah dan HPnya berganti hampir tiap semester.
"Aku rasa dia masih punya beban 50 SKS lagi yang belum diambil, boro-boro bimbingan skripsi. Harus yang otaknya encer juga dong Wi."
"Paket lengkap ya, udah kaya, pintar, ganteng pula." kataku lagi.
"Aku ga bilang ganteng, cukuplah enak dipandang."
Menjelang tidur aku memukul lengan Rima.
"Ada Rima, terpenuhi semua. Kaya, eh mapanlah pokoknya, baik, pintar banget malah dan wajahnya berkarisma."
Rima diam menunggu lanjutannya.
"Dekan kita Rima, profesor Suryadi, istrinya meninggal sebulan yang lalu, baru 50-an kok Rim!"
Sebuah bantal melayang ke kepalaku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan