Ndelok HP
Kabupaten tempat tinggal ku adalah daerah paling Utara di Sumatra Barat, berbatasan dengan provinsi Sumatra Utara. Selain itu kabupaten ini dulunya adalah daerah tujuan transmigrasi. Maka tidak heran di SMA tempat saya mengajar ada empat macam etnis siswa, Minang, Mandailing, Batak dan Jawa. Sebetulnya ada Sunda juga, tapi di daerahku semua yang dari pulau Jawa dianggap orang Jawa saja.
Setelah Minang etnis siswa di sekolahku yang paling banyak adalah Jawa. Bahkan di beberapa kelas ada yang jumlahnya sama banyak antara Minang dan Jawa.
Percakapan dengan bahasa Jawa sangat umum terdengar di kelas atau di halaman sekolah. Tetapi kami hanya punya satu guru yang beretnis Jawa, dua orang Mandailing dan sisanya orang Minang.
Kemarin saat para pengawas mengumpulkan lembar jawaban pada panitia yaitu aku dan Bu Rida, guru kami yang orang Jawa itu menyerahkan kertas kecil padaku.
"Apa ini Pak?" tanyaku.
"Dikasih anak Bu, katanya ada temannya nyontek."
"Oh begitu, terima kasih, nanti saya periksa."
Saya melanjutkan pekerjaan menerima amplop lembar jawaban, menyimpan soal yang sudah selesai, dan menyusun kembali map untuk ujian berikutnya.
Ketika ruang panitia sudah sepi karena semua pengawas sudah masuk kembali untuk mengawasi ujan berikutnya, saya teringat kertas kecil tadi.
Saya tadi menyelipkan di dompet HP, lalu saya keluarkan, kemudian saya tertegun.
Kertas kecil itu berbahasa Jawa! Jadi ada anak etnis Jawa melapor pada Pak Suharjo yang juga etnis Jawa dan laporannya dalam bahasa Jawa. Lha, mengapa Pak Suharjo menyerahkan ke saya? Iya sih, nenek buyut saya orang Jawa, tapi sekarang saya sudah menjadi orang Minang.
"Pak, delok en wong wedok sing neng mburi. Wonge ndelok HP Pak. HP ne di dalam nang mburine Pak."
Itulah bunyi surat itu. Apakah saya mengerti? Iya, saya paham. Walau satu kata, yaitu kata mburi saya tanya google dulu. Ternyata suratnya tidak jelas, siswa ini tidak melaporkan namanya siapa yang nyontek HP, kelas berapa. Cuma wong wedok seng neng mburi. Padahal di belakang ada lima siswa sebaris.
Saya tiba-tiba tersenyum, syukur ini surat berbahasa Jawa yang secara umum saya masih paham. Seandainya suratnya berbahasa Batak atau Mandailing? He..he, mana saya mengerti.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan