Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rambutan yang Tak Dianggap

Sejak Sabtu 27 Juni saya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Saya dan suami terbang dari Padang, naik pesawat dua kali demi bertemu cucu. Kata suami saya, biarlah, selagi masih ada rezeki, selagi kaki masih kuat.

Beberapa kali ke luar rumah, baik perjalanan dari bandara, keluar untuk makan, atau jalan ke pantai untuk refreshing saya melihat sesuatu yang membekas di ingatan saya. Banyak sekali pohon rambutan berbuah lebat, bahkan lebat sekali. Satu pohon memerah karena buahnya yang sangat banyak.

Saya melihat itu di halaman rumah, di kebun, di tanah kosong, di halaman kantor. Yang saya heran, mengapa buahnya dibiarkan sangat banyak, sampai semerah itu, berarti buahnya tidak dipetik. Apakah orang Pangkalan Bun tidak suka rambutan?

Saat menuju pantai saya melihat serombongan bocah berjalan di pinggir jalan, di dekat situ ada rumah yang juga ada rambutan berbuah lebat, mereka melewati saja. Tidak adakah dalam pikiran mereka keinginan meminta atau yang lebih parah untuk mencuri rambutan yang memerah sepohon-pohon itu?

Pulang dari pantai saya melihat penjual rambutan di pinggir jalan. Saya meminta suami membelinya. Suami membeli sekilo, sepuluh ribu. Rambutannya manis, berair. Tapi beda dengan rambutan yang dijual di pasar tempat kami tinggal, yang disebut rambutan Binjai, yang manis dan ngelotok. Rambutan Pangkalan Bun tidak begitu ngelotok, daging buahnya menempel di biji. Itukah sebabnya rambutan tidak dipedulikan masyarakat?

Kalau yang dijual saja tidak ngelotok, apakah berarti yang di kebun dan semak-semak itu lebih tidak ngelotok lagi? Tapi saya yang berprinsip semua rezeki Allah harus dimanfaatkan, merasa sayang. Bukankah mereka bisa membuat jadi manisan atau apalah, dari pada satu pohon dibiarkan memerah dan tersia-tersia.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post