Mirdayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Menu yang Sudah Lama Tak Ada

Saya orang Minang, itu karena saya kedua orang tua saya lahir di Sumatra Barat. Saya dan ketiga adik lahir di Padang. Tapi darah nenek moyang saya adalah dari Jawa Tengah. Nenek buyut saya dari Semarang dibawa dengan kapal ke Padang.

Yang tertinggal adalah raut wajah, ada garis wajah Jawa di wajah saya. Seperti apa? Apa hidung saya mirip tempe bacem, atau dahi saya mirip wingko babat? Entahlah. Tapi sering sekali murid saya bertanya, "Apa ibu orang Jawa?"

Dulu saat saya kecil yang memasak di rumah adalah nenek, orang tua ibu saya. Sesekali ibu, saat beliau libur mengajar. Nenek adalah satu- satunya leluhur yang saya kenal, karena kakek nenek yang lain sudah meninggal saat saya kecil bahkan belum lahir.

Menu di rumah itu bukan menu Minang 100%. Mana ada rumah orang Minang buat sayur lodeh, sayur asem, sayur oblok-oblok, pepes ikan, sambel bajak. Belum lagi tahu kecap, semur ayam, serundeng.

Ayah saya orang Minang tulen, dari Palupuah kabupaten Agam. Sedikitpun tak akan dimakan nya semua menu non Minang tadi. Tentu saja nenek dan ibu juga bisa membuat randang, kalio, asam padeh ataupun palai bada. Tapi karena ayah cuma makan malam saja, maka menu non Minang itulah yang sering menemani masa muda saya.

Saya menikah dengan orang Minang tulen juga, dari kabupaten Tanah Datar. Suami saya seperti umumnya orang Minang, fanatik sekali dengan masakan Minang, rumah makan Minang. Tidak bisa menelan bubur ayam, tidak suka semur dan tahu kecap. Seandainya ayah saya bertemu dengan suami saya, pasti mereka cocok.

Saat anak-anak masih di rumah, saya masih bisa memasak menu non Minang, karena masih ada yang akan memakan. Semur, opor, tahu kecap disukai anak-anak karena tidak pedas, lalu untuk ayahnya saya buatkan lauk sendiri.

Kini saya hanya berdua suami di rumah. Mestinya dia yang mengalah, toh yang masak saya, terserah saya dong saya masak apa. Tapi saya tidak bisa, melihat orang menghadapi makanan dengan wajah lempeng, lalu mengambil secuil nasi, lalu hanya makan dengan sambal, tanpa menyentuh sedikitpun masakan beraroma Jawa itu.

Sesekali saat kangen sekali saya buat nasi liwet, atau saya buat tahu kecap. Saya makan sendiri. Saat ini, saya ingiin sekali makan semur tahu campur mata sapi, tapi belum kesampaian. Karena saat saya masak itu, saya mesti lagi membuat menu lain yang diterima lidah suami. Hadeeh nambah kerjaan saja.

,

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post