Abang
Baru dua pekan sebagai mahasiswa baru, aku bahkan belum hafal nama semua teman sekelas yang 40 orang. Sebagai mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar teman sekelasku mayoritas adalah perempuan, cuma lima orang laki-laki.
Ulva salah satu teman yang pakaiannya sangat syar'i. Cara bicaranya terjaga, dan dia cerdas. Pernah satu kali dia menasehati Tasya yang memakai kerudung terlalu pendek, Tasya yang ceplas-ceplos kulihat mengangguk tanpa marah. Sejak itu aku suka memperhatikan Ulva dengan rasa kagum.
Tapi sore itu aku merasa kecewa saat Ulva dijemput seorang laki-laki dan Ulva naik ke boncengan motornya dengan tersenyum. Gestur mereka berdua terlihat saat akrab dan tak ada sungkan. Aku terpana saat Ulva meletakkan tangan di pinggang laki-laki itu ketika motor bergerak.
Aku belum kenal keluarga Ulva, tapi yang mereka tampilan bukan keakraban adik kakak . Ada percikan di antara mereka, kasih sayang lawan jenis. Rasa hormat dan kagum pada Ulva tiba-tiba meleleh, ternyata pakaian syar'i dan kalimat bijaksana tidak menggambarkan yang sebenarnya.
Saat pagi itu aku memarkirkan motor dan melihat Ulva turun dari boncengan laki-laki itu dan mencium tangannya. Aku terpana dan tak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Kamu dibonceng siapa Ul?"
Dia tersenyum, "Abang," jawabnya pendek.
"Kamu gak mirip, dan gesturnya bukan dengan Abang."
Dia terdiam sebentar.
" Yana, itu benaran Abang. Aku panggil Abang pada suamiku. Aku sudah nikah Yan."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan