ASESMEN DI SEKOLAH KHUSUS PADA MASA PANDEMI
Namanya juga sekolah khusus, pasti ada yang membuatnya berbeda dari sekolah reguler pada umumnya. Setelah kegiatan pendaftaran dan penerimaan peserta didik baru, maka di sekolah khusus atau yang biasa disebut Sekolah Luar Biasa, peserta didik baru akan menjalani tahapan asesmen. Tahapan ini berguna untuk melihat dan menyigi kemampuan yang telah dimiliki anak, kompetensi yang belum dicapai, masalah apa yang dihadapi, serta kebutuhan apa yang diperlukan untuk pelayanan pendidikannya. Begitu pentingnya sehingga tahapan ini tak dapat diabaikan dan mesti dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Melaksanakan asesmen di masa pandemi ternyata memiliki tantangan tersendiri. Meski telah mengacu pada protokol kesehatan, seperti; mencuci tangan dengan sabun, social distancing, menggunakan face shield, memakai masker, serta mengukur suhu tubuh terlebih dahulu. Ternyata pada pelaksanaanya, beberapa protokol kesehatan terpaksa diabaikan demi menegakkan hasil asesmen dengan benar.
Heterogennya kebutuhan dan karakter anak berkebutuhan khusus membuat perlakuan yang diberikan saat asesmen juga berbeda. Untuk penyandang autis misalnya, bagaimana mungkin kita tetap menggunakan masker dan face shield? Saat mulut kita menganga sekalipun, instruksi masih saja tak berarti. Apatah lagi dengan wajah tertutup dengan asesoris yang memenuhi wajah. Beberapa di antara mereka yang mengalami hiperkatif bisa saja mencopot lalu membuangnya, sambil sesekali terkekeh. Haeduuh!
Sebagian lagi dengan eye contact sangat minim. Agar terjadi kontak, maka wajah harus berhadapan dan mata saling menatap. Kondisi ini tidak akan tercipta dengan hanya sekadar memberikan perintah melalui suara, melainkan dibantu dengan sentuhan fisik. Seperti memegang kepala anak lalu mengarahkannya ke arah yang diinginkan. Memegang tangan bila perlu, agar lebih fokus dan menghindari dari gerakan stereotipe lainnya.
Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika saat mengasesment anak-anak dengan gangguan dan hambatan di atas, kita harus patuh pada protokol kesehatan utamanya social distancing? Siapkah kita berteriak-teriak, sementara anak lari hilir mudik dan sibuk dengan dunianya sendiri? Belum lagi anak dengan gangguan pendengaran. Saya yakin kita semua sudah tahu jawabannya, bahwa menggunakan masker saat mengasesmen mereka sangat tidak tepat?
Memang tidak ada yang lebih efektif selain belajar tatap muka. Mengasesmen tanpa embel-embel protokol kesehatan. Bagaimanapun belajar luring dan sentuhan langsung saat asesment tidak bisa digantikan. Namun apa boleh dikata, adanya pandemi covid-19 ini bukanlah keinginan. Kita hanya dituntut cerdas menghadapi kondisi ini. Sebagai guru yang melaksanakan asesmen, saya melakukan sebagaimana harusnya. Melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin, dan terpaksa mengabaikannya bila dirasa tak efektif lagi. Selanjutnya memperbanyak doa dan berserah diri atas kuasaNYA. Semoga kesehatan selalu dicurahkanNYA dan keresahan yang mendunia ini segera berakhir.
Pekanbaru, 17 Juli 2020 (Hari ke 2)
Semangat untuk tim asesmen di SLB di manapun
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan