Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

PENGGUNAAN GADGET SEBELUM DAN SAAT PANDEMI

Dulu, jauh sebelum covid-19 bersarang di muka bumi ini. Beberapa sekolah pernah melarang peserta didiknya menggunakan gadget di sekolah. Ada aturan tak tertulis tentang hal ini, apabila aturan itu dilanggar ada hukuman yang menanti. Beberapa peserta didik yang ketahuan menggunakan gawai saat berada di sekolah, sempat disita HPnya berhari-hari hingga orang tua datang kesekolah menyelesaikannya. Ternyata aturan itu tidak saja untuk peserta didik, gurupun terkesan tabu menggunakan gadget saat proses belajar mengajar sedang berlangsung.

Beberapa guru mungkin pernah terciduk oleh kepala sekolah yang tiba-tiba melakukan supervisi ke kelas. Atau hanya sekadar berkeliling sekolah guna melakukan pengawasan dan pemantauan. Namun sang guru terkesan gugup dengan wajah bersalah apabila diketahui ada HP dalam genggamannya. Padahal guru tersebut tidak sedang bermain tiktok, tidak pula sedang belanja online. Banyak urusan yang mesti diselesaikan dengan benda kecil itu terkait proses belajar mengajar.

Barangkali ada pesan dan panggilan dari orang tua peserta didik yang meminta izin, karena anaknya tidak bisa hadir kesekolah. Boleh jadi, guru tersebut sedang mencari tambahan bahan ajar melalui mesin pencari google. Atau mungkin pula sedang berkreasi merancang penilaian guna melihat sejauh mana pemahaman peserta didiknya terhadap materi yang telah disampaikan. Sebegitu membantu, sehingga harusnya gadget tidak dipisahkan dari proses belajar mengajar.

Tidak sampai disitu. HP atau gadget juga mampu memenuhi hampir semua kebutuhan. Sehingga dikatakan “dunia ada dalam genggaman”. Bahkan ada yang berseloroh “Jangan sampai tidak membawa HP, lebih baik tidak membawa uang, dompet, bahkan istri/ suami” (eeh). Dan bukankah masa ini merupakan era digital? Bahkan kita sudah menuju revolusi industri four point zero (4.0). Apa jadinya hidup tanpa gadget? Tanpa android dan tanpa teknologi informasi lainnya? Kenapa penggunaan gadget di sekolah terkesan masih sangat dibatasi?

Lalu kini, setelah virus corona mewabah, gadget dicari-cari. Android dan HP tidak pernah henti berada di tangan. Segala informasi tidak akan diperoleh tanpa adanya benda elektronik itu. Kita seakan buta dan bisu tanpanya. Apa yang terjadi? Saat semua kebutuhan hidup harus dipenuhi dengan satu alat elektronik ini, mirisnya kita menjadi gagap. Segala upaya “baru akan” dilakukan untuk mempelajarinya. Untuk meningkatkan keterampilan menggunakannya. Terutama keperluan edukasi atau aspek pendidikan yang kini beralih secara moda daring.

Seandainya pihak sekolah tidak terlalu membatasi penggunaanya sejak dulu. Dan para guru serta orang tua cerdas menyikapi hal ini sejak dini, mungkin kejadian ini bisa diminimalisir. Saat dibutuhkan, maka anak-anak hingga orang dewasa langsung terampil menggunakannya. Bukan sebaliknya, keteteran mempelajari penggunaanya terlebih dahulu. Hari terus berlalu, kebutuhan tetap harus dipenuhi, akan tetapi kita masih saja mencoba dan mencoba. Guru-guru mendadak dibekali pelatihan-pelatihan IT, peserta didik yang dulu dilarang, kini dipaksa belajar menggunakan HP, gadget ataupun gawai.

Maka yang terpenting sebenarnya adalah “peran guru dan orang tua dalam melakukan pendampingan kepada anak-anak kita.” Tidak usah terlalu membatasi penggunaan gadget, melainkan memaksimalkan pendampingan saat menggunakannya. Proporsional saja. Ingat, selain agar generasi muda dapat memenuhi semua kebutuhannya, juga agar mereka dapat berkembang sesuai zamannya. Maka bersyukurlah bagi sekolah-sekolah yang memberi kebebasan peserta didiknya memanfaatkan gadget dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah bagi orang tua dan guru yang telah dengan maksimal mendampingi anaknya menggunakan HP. Anda lebih beruntung.

Pekanbaru, 24 Juli 2020

#TagurHariKe8

#CerdasMenyikapiPerubahan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post