COVID-19 MENGANTARKAN PESERTA DIDIK AUTIS PADA KEHANGATAN KELUARGA
Pada awal belajar dari rumah diberlakukan, saya sempat galau memikirkan bagaimana peserta didik saya menghadapi keadaan ini? Bahkan dua minggu pertama nyaris tidak ada proses belajar mengajar yang terjadi. Karena keterkejutan kita semua dengan keadaan yang mendadak berubah. Sehingga kami hanya sibuk menyesuaikan diri dengan situasi baru ini.
Saya sempat bingung dan kewalahan mencari jalan keluar dari curhatan para orangtua. Bahwa anaknya tidak mau belajar dari rumah. Karakteristiknya seperti "ritualistik serta minat yang terbatas" menjadikannya harus melakukan kegiatan sebagaimana biasanya. Mereka tidak bisa atau sangat sulit merubah kebiasaan yang selama ini mereka lakukan. Jika setiap pagi mereka terbiasa mandi, lalu sarapan, lanjut dengan memakai seragam sekolah untuk seterusnya berangkat ke sekolah diantar oleh orangtua mereka. Lalu kini ritual itu terpaksa dihentikan karena alasan yang mereka tidak pahami sama sekali.
Jika orangtua dan keluarga bahkan guru pun sangat mengerti kenapa kita harus belajar dari rumah, namun menjelaskan kepada mereka terasa percuma. Mereka tidak mengerti apa itu virus, bagaimana virus corona dapat membahayakan diri mereka bahkan orang lain. Kenapa pandemi ini harus merubah ritual mereka? Memang tidak semua anak autis demikian. Tapi rata-rata peserta didik saya adalah autis dengan tingkat kemampuan sedang ke bawah. Sebagian orangtua panik, mereka kini berhadapan dengan tantangan baru yaitu “harus menghadapi tantrum anaknya yang autis setiap pagi”. Butuh energi, butuh pemikiran dan butuh waktu. Yang paling rentan adalah situasi ini mengaduk-aduk emosi keluarga di rumah.
Salah satu orangtua pernah menceritakan bahwa, ritual setiap pagi tetap mereka lakukan. Mandi, sarapan, berpakaian seragam sekolah, lalu membawa anandanya berkeliling entah kemana sekitar beberapa menit, untuk kemudian pulang kembali. Cara ini dilakukan setelah sebelumnya orangtua ini membawa langsung anaknya kesekolah. Lalu mendapati sekolah yang kosong. Barulah mereka pulang kembali. Berikutnya ananda ini hanya dibawa berkeliling dengan sepeda motor. Bersyukur cara ini ampuh meredam tantrumnya.
Berbeda dengan peserta didik saya yang satu lagi. Orangtuanya terpaksa harus menelpon saya untuk menjelaskan bahwa hari ini “kita libur”, dan saya harus mencari seribu akal sebagai alasan kenapa kita libur sekolah. Peserta didik saya ini digelari dengan “manusia kalender”. Jadi, dia tahu kapan tanggal merah dan tidak di luar kepala. Dan dia akan berontak jika kita mengatakan libur, padahal saat itu kalender tidak menunjukkan angka merah.
Segala upaya kami lakukan agar keadaan membaik bagi peserta didik autis ini. Saya merasakan betapa lelahnya orangtua yang harus menghadapi keadaan ini setiap hari. Sedangkan saya hanya menyaksikan secara online, cukup panik mencari akal. Apatah lagi orangtua di rumah yang langsung mendahapi keruwetan ini.
Kini, sudah enam bulan berlalu. Belajar dari rumah masih berlanjut sampai waktu yang tidak ditentukan. Kegalauan orangtua menghadapi perubahan ritual anaknya yang special ini mulai jarang saya dengar. Bahkan belakangan tidak ada lagi.
Beberapa video belajar dari rumah yang didokumentasikan orangtua membuat saya terharu, sekaligus takjub. Bagaimana tidak? Sedemikian rumitnya dulu mereka meninggalkan tutinitas sekolah setiap hari, kini enyah begitu saja. Dalam video pembelajaran itu juga terlihat bahwa ananda ini selalu didampingi oleh hampir seluruh anggota keluarganya saat belajar. Ada mama, papa bahkan kakak dan adik. Sesekali terdengar pula anggota keluarga itu tertawa bersama karena keunikan anaknya yang special itu, yang barangkali tidak pernah mereka sadari selama ini. Mereka yang dilabeli "hidup di dunianya sendiri" tak saya temukan, saat melihat mereka belajar dari rumah di dampingi oleh anggota keluarga.
Sungguh pandemi ini mengantarkan mereka pada kehangatan bersama keluarga. Terlihat ada keihlasan pada keluarga itu mendampingi anaknya yang special. Salah satu hikmah yang saya petik dari adanya wabah Covid-19. Setiap keluarga tentu berbeda bagaimana menghadapi anaknya. Terutama ketika terjadinya perubahan ritual. Namun apapun sudah dilakukan oleh seluruh anggota keluarga agar anaknya tetap baik-baik saja. Saya harus acungi dua jempol untuk orangtua hebat ini.
Pekanbaru, 23 Agustus 2020
#TagurHariKe39
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan