CERITA SEPTEMBERKU
Suatu masa dulu, September pernah menjadi momen paling kukenang, tentu dia juga demikian. Pertengahan bulan, tepat di tanggal 15 kami mengikat janji suci sehidup sesurga. Kala dia memanggilku dengan sebutan "istriku sayang" untuk pertama kalinya, ooh aku dibuatnya melayang. Bunga-bunga di hati yang tengah mekar jadi beterbangan. Semua yang ada nampak indah. Ach, bibirku pun tak mampu menutupi rasa ini. Ia terang-terangan menyampaikan pesan ke semua orang bahwa pemiliknya tengah bahagia. Bahagia ala pengantin baru.
Hari-hari berlalu begitu indah. Kamu tahukan bagaimana rasanya jadi pengantin baru? Yang belum merasakan, semoga segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya. Jangan khawatir, waktunya pasti akan tiba.
September kelabu tidak berlaku untuk kami. September kami justru sebaliknya, cerah berwarna merah jambu. Walaupun kenyataannya September pada masa itu musim hujan, dingin. Sehingga banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan di luar sana. Oh tapi bukannya pasangan pengantin baru menginginkan waktu lebih banyak di rumah? Ups...
September. Bulan ini juga merubah banyak kebiasaan, menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan baru hingga menjadi habit bagiku, tentu juga baginya. Aku tak lagi sendiri, sudah ada sang pelindung yang menggantikan sosok ayah bagiku. Sudah ada teman yang siap mendengar semua cerita dan keluh kesahku. Ada tugas dan tanggung jawab baru yang diamanahi untukku. Menjaga diri dan nama baik suami. Serta membiasakan diri dengan segala perbedaan dan meleburnya menjadi satu tujuan. Seiya sekata.
Setiap September di setiap pergantian tahun, kami mengenangnya dengan syukuran kecil-kecilan. Bahtera rumah tangga berhasil kami lalui. Setahun, dua tahun, hingga lima tahun. Riak dan gelombang berhasil kami lalui hingga kapal kami tak jadi oleng.
Hingga pada September, di tahun ke enam. Kami mendapat ujian besar. Suami tercinta diuji dengan sakit ensefalitis, dan meninggalkan gejala kronis seumur hidup. Sang nakhoda kapal kini tak lagi mampu mengendalikan laju kapal. Penyakit yang diderita membuatnya tak bisa melakukan apapun. Dengan sigap semua kemampuan kukerahkan agar kapal kami tetap berlayar. Namun apa daya, ketentuanNYA adalah yang terbaik. Memasuki tahun ke tujuh aku harus rela kehilangannya untuk selama-lamanya. Kehilangan kekasih hatiku, kehilangan ayah dari anak-anakku, kehilangan semua kebiasaan untuk melayaninya.
Aku harus belajar ikhlas, jika September setelahnya tak lagi bahagia. Tak lagi ada syukuran dan ucapan "selamat sayang, kita telah berhasil dan berbahagia hingga tahun ini". Aku ikhlas jika September setelahnya harus menghapus beberapa kebiasaan dan membiasakan kebiasaan baru hidup tanpanya. Aku harus ikhlas dengan pertemuan pada September berikutnya tanpa dia.
Hingga kini, sudah tiga kali September aku dan anak-anak lalui. Tiga kali September yang berbeda. Tiga kali September tanpanya. Dan tiga kali September yang kelabu. Akhirnya kurasakan jua bagaimana kelabunya September ini. Tentu saja selalu ada rindu untuknya. Semoga engkau tenang di sana, kekasih hatiku. "Happy unniversary untuk kita sayang" tepatnya pada tanggal 15 besok.
Jauh sebelum waktunya, tanggal ini telah muncul dalam ingatan. Cerita Septemberku
Pekanbaru, 5 September 2020
#TantanganGuruHariKe52
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan