KORIDOR RUMAH SAKIT JIWA
Sebagian mata menatapnya iba. Namun sebagian yang lain seolah tak peduli, seakan keberadaan perempuan yang sedang berteriak-teriak itu bagai angin lalu. Perempuan itu semakin memprihatinkan dengan bajunya yang kusut dan lusuh. Rambutnya terlihat acak-acakan. Jika diperhatikan sebenarnya perempuan itu cukup cantik, kulitnya putih, hidungnya mancung, meski sedikit gemuk. Hanya terkesan kurang terawat. Tidak seperti sebagian orang, aku tak henti-henti terus memperhatikannya.
“Saya tidak bersalah pak hakim, saya tidak selingkung, bukan saya yang salah, saya tidak selingkuh, tolong saya!”. Kalimat itu terus menerus keluar dari bibirnya. Air matanya tidak lagi keluar, barangkali sudah kering karena terus menangis setiap waktu tanpa henti. Satupun orang yang ada di sekelilingnya tidak peduli. Mereka hanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kawan yang kutunggu dari tadi akhirnya datang. Murni telah selesai mengurus urusannya. Dia menepuk pundakku, sambil berjalan meninggalkan tempat ini. Perempuan tadi masih kulihat menangis, berteriak-teriak seperti tadi tanpa lelah. Beberapa perawat memasuki ruangan dan mendekatinya, lalu menyuapkan beberapa pil obat. Kini, suara perempuan itu semakin lama semakin menghilang seiring semakin menjauhnya kami meninggalkan koridor rumah sakit jiwa itu.
Pekanbaru, 10 September 2020
#TantanganGuruHariKe57
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan