EMBER PENAMPUNG AIR HUJAN
Anak-anak Lilis nampak suka bermain dengannya. Warna yang cantik dan bulunya yang lebat memang menyenangkan untuk dipandang. Namun anggora memang tidak selincah dan secerdik kucing kampung liar. Bahkan untuk buang hajat saja dia tidak bisa menggali tanah. Setiap hari teronggok benda lembek yang bau itu di halaman rumah. Aroma khas yang tidak bersahabat ini selalu ada setiap waktu. Menyatu dengan bau rumah Lilis.
Pagi itu nampak si belang yang sedang lahap minum, pada ember yang digunakan Lilis untuk menampung air hujan. Lilis memandangi si belang dengan senyum manis. Seandainya anak-anak Lilis ikut melihat pasti dia sangat senang. Air pada ember itu sering digunakan Lilis untuk menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya. Tapi halaman itu kini tak terurus, tai si belang ada di mana-mana. Apalagi jika rumah sempat ditinggalkannya dua hari saja.
Beberapa hari setelah itu, si belang dan kawan-kawan tidak lagi suka bermain di halaman rumahnya. Anak Lilis terus bertanya, "kemana si belang?". Lilis pun akhirnya bertanya pada tuan si belang. Pemilik kucing itu bercerita dengan sedih, bahwa kucing itu sudah mati beberapa hari lalu. Terakhir Lilis melihatnya saat si belang minum pada ember penampung hujan. Air yang sudah diberi racun sebelumnya. Lilis lega, puas. Lalu ikut menyampaikan rasa sedih karena si belang sudah tiada.
Pekanbaru, 04 Oktober 2020
#TantanganGuruHariKe81
#BelajarAkrostik
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan