GURU MENULIS PERTAMA
Sesuatu yang PERTAMA, biasanya punya kesan LEBIH dari yang lainnya. Cinta pertama misalnya, pacar pertama, anak pertama, sekolah pertama, pernikahan pertama, suami pertama (eeh). Begitupun guru pertama. Normalnya, yang pertama memang melekat kuat dalam ingatan dan punya sensasi berbeda. Karena, itu adalah moment pertama kali kita mengetahui, merasakan, menjadi, menikmati dan belajar. Belum ada pembanding dan pengalaman sebelum-sebelumnya.
Menyoal guru pertama, ada banyak yang berkesan. Guru pertama di TK, guru pertama di SD, SMP, SMA bahkan ketika kuliah. Masing-masing punya kenangan tersendiri dalam ingatan dan mendapat tempat istimewa di hati. Jasanya dalam segala pencapaian hidup tentu tak dapat dikesampingkan.
Menuliskan tentang semua ini, mengingatkan pada guru menulis pertamaku . Sosok yang tegas, cenderung judes, tak kenal ampun bahkan tanpa toleransi. Itulah kesan PERTAMA saat mengikuti kelas menulis perdana bersamanya. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuat penasaran, sehingga tak ingin melewatkan setiap kelas yang diampunya.
Setiap tulisan peserta langsung dikomentari, diberi umpan balik tanpa nanti. Kadang menusuk, namun memacu adrenalin. Menjadikanku hati-hati pada tugas-tugas berikutnya. Mencari tahu terlebih dahulu sebelum bertanya. Anehnya seringkali juga membuat terbang melayang bila komentar dan umpan balik itu sebuah pujian, support dan semangat.
Akhirnya aku sadar, bahwa cara itulah yang membuat ketagihan dan candu mengikuti kelasnya. Feedback yang diberikan memancing semangat, menjaga disiplin, dan menjadikanku belajar mandiri.
Setelah lama mengikuti kelasnya, lebih kurang 25 buku antologi telah dihasilkan. Kesan sangar, tegas, dan judes hilang begitu saja. Apalagi setelah beberapa kali pernah live di fb. Semua kesan berganti begitu saja, terbalik dari kesan pertama. Sosok Bapak Eka Wardana ternyata seorang yang lemah lembut, penuh empati, rajin, disiplin. Dengan semua aktifitasnya di luar sana, tetap aktif di dunia maya membersamai kami di kelas menulis yang tanpa biaya sama sekali itu. Benar-benar lillahi taala. Aku selalu terharu dengan point ini. Kudapati lagi alasan kenapa aku candu belajar dengan beliau? "Karena beliau mengajar dengan hati."
Berawal dari sini, Kelas Menulis Antogi dengan coach yang manis, akhirnya aku berani menulis. Lalu mencoba dan merambah masuk kelas-kelas menulis lainnya. Bahkan beberapa tulisan pernah masuk media mainstream. Tentu saja semua berkat kepiawaian sang guru Eka Wardana. Sosok guru menulis pertamaku. Semoga kesehatan selalu membersamaimu guru.
Pekanbaru, 27 November 2020
#TagurHariKe135
#MasihEdisiHariGuru
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan